Kamis, 19 Mei 2016

Silent Scream

Ada sebuah pemikiran terpendam dariku yang tidak pernah kuceritakan kepada orang lain. Sebuah pemikiran yang, bisa dibilang, kelam, gelap dan bahaya. 
Ini hanya antara kau dan aku, jujur, aku tidak pernah merasa/berpikir bisa hidup lebih dari umur 20 tahun.

Pemikiran ini berawal semasa aku sma, kelas satu kalau tidak salah. Di perjalanan ke sekolah, aku mendapatkan sebuah perasaan ganjil. Perasaan yang berteriak bahwa -aku akan mati-. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa merasakan hal tersebut atau dari mana perasaan tersebut datang. Yang aku tahu hanyalah perasaan itu tiba-tiba datang.

Lalu apa yang kulakukan? Aku membatin, aku tidak ingin mati dulu. Dan semenjak saat itu aku merasa aku akan mati di umur muda.

Mungkin ini semua hanya khayalanku, mungkin ini tidak benar, mungkin jika nantinya aku mati itu hanya karena aku yang menginginkannya. Seperti kata orang, perkataan adalah doa.

Lalu pertanyaan ku kepada diriku saat ini adalah, apakah aku mau hidup lebih dari dua puluh tahun?

Banyak kesalahan, blunder, mistake yang telah aku perbuat dalam dua tahun terakhir dari hidupku. Kesalahan terbesarku adalah membuat sedih ibuku dengan keluar dari UPN'V'YK. Aku sadar aku keluar dari UPN itu adalah sebuah kesalahan, setidaknya karena keluar itu ibuku telah bersedih. Kakakku pernah bilang, 'Kalau kamu mikirin orang tuamu, harusnya kamu gak keluar.' Tapi kini aku sudah keluar. Nasi sudah menjadi bubur.

Kini aku sudah masuk kuliah, di yogja juga. Tapi aku tidak akan pernah sama. Aku tidak akan pernah bisa menjadi Tubagus yang dulu lagi, Tubagus yang berani nunjuk tangan buat jadi komting angkatan, Tubagus yang kalau enggak ada kerjaan ke perpustakaan kampus buat belajar, Tubagus yang setiap sorenya ke masjid buat bertemu Tuhannya.

Sungguh, aku ingin menjadi Tubagus yang dulu lagi. Tapi dosaku sudah terlalu berat. Air mata ibuku telah tertetes. Sakit hatinya tidak akan pernah bisa hilang. Aku sudah terlalu kotor untuk menjadi Tubagus yang dulu lagi.

Tuhan, Engkau maha tahu, Engkau maha kuasa. Berilah hambamu kekuatan. Berilah hambamu keberanian. Berilah hambamu ketabahan. Berilah hambamu kesabaran. Karena sesungguhnya, hambamu ingin bahagia. Seperti dulu lagi.


19 May 2016

Catatan Hati Sang Pendosa

n.b. Terimakasih buat mbakku, yang sudah mau mendengarkan tangisku tanpa tahu apa-apa.
Terimakasih buat sahabatku, yang mau ada disampingku tanpa tahu apa-apa.
Keberadaan kalian menyembuhkanku.
Terimakasih