Minggu, 13 September 2015

Nemesis

This world is full of noise
The noise that I don't want to hear

Pull me
Pull me out of this realm

I want to fly to the sky
Yet people keep dragging me down

I want to feel the wind
Yet the barricade is stand up high

I want to see the reality
Yet the falsify keep clouding me

Fine, fine then
I said to myself

If the world won't be my friend
Then I will be your enemy
Your Nemesis

Rabu, 02 September 2015

Crush

Do you know that I love you?
I know you don't love me.

Yet in all my breath.
In all my prayer.
In all my keyword.
You are included.

God is the only one.
Who knows that I love you.
God is the only one.
Who knows how deep it is.

My heartbeat rising.
So fast.
Too fast.
Enough too blow it up.

So,
One is my wish to you
Be happy
Till your time come

So,
One is my prayer on you
Let me be
The one who make you happy

Kamis, 09 April 2015

Aimer - Brave Shine tv size

Aimer - Brave Shine

Hidari te ni kakushita
Negai wa negai no mama
Mezamenai yume miteta

Migi te ni wa kara no kioku
Dare mo shiranai sekai mou
Hateyamenai ame ni utareteita

Mamoritai mono o mamoreru tsuyosa
Sore wo shinjerarenaku naru yowasa
Subete ukeirete ashita o sagasu

Brave shine
To wa no haseranai
Say the line
Kizu darake muyoku
You save my live

Kazashita yaiba no saki in
Omoi wo kasaneta
Inori wa toki wo koete

Your brave shine

Bahasa Indonesia

Tersembunyi di tangan kiriku
Harapan yang tetap menjadi harapan
Menyaksikan mimpi tanpa pernah terbangun

Ingatan hampa di tangan kananku
Dunia yang tidak dikenal siapapun
Ditembaki oleh hujan yang tak bisa berhenti

Kekuatan untuk melindungi yang harus dilindungi
Kelemahan karena tak bisa lagi mempercayai hal itu
Kuterima segalanya dan mencari hari esok

Sinar keberanian
Jangan terburu-buru ke tujuanmu
Ucap dialog
Luka kecerobohan
Kau menyalamatkan nyawaku

Dibandingkan pedang di balik tudung angin
Perasaanku lebih dulu terucap berulang-ulang
Dan doanya melampaui waktu

Sinar keberanianmu

Minggu, 05 April 2015

Fated to End - Chapter 1



Chapter 1 – Kedamaian dalam Kebencian

Gelap.

Hal pertama yang diterima oleh saraf otakku adalah suara rintikkan hujan yang beradu dengan kaca jendela. Mataku membuka, hanya untuk memastikan kehadiran hal yang paling kubenci itu. Hujan selalu saja mengingatkanku kepada hari itu, gubuk itu, suara itu, pria itu. Aku mengalihkan pandanganku ke samping, menatapi gadis yang sedang membaca buku di bawah penerangan lampu baca. Asma Nadia, tipikal buku yang selalu dia baca.

“Aisyah, mau tukeran tempat duduk?”

“Ahmad.”

Aisyah hanya memandangku. Mungkin dia kaget karena aku sudah bangun atau dia sedang mencoba mencari arti yang lebih dalam dari perkataanku barusan. Diam, memandang, dan mendengarkan. Diantara orang-orang yang ku kenal dialah yang paling banyak tahu mengenai isi hatiku. Karena itu aku yakin. Yang dia tatap bukan hanya mataku tapi jauh lebih dalam dari itu. Dan dia juga tahu, kata-kata manis bukanlah hal yang kubutuhkan.

“Mau tukeran tempat kan?”

“Iya makasih.”

Aku bertukar tempat dengannya. Aisyah duduk di samping jendela sementara aku duduk di samping lorong bis. Aku menatap kaca depan jendela bus yang kami tumpangi, berusaha melihat tanda-tanda keberadaan  kami.

“Berapa lama lagi sampai Jogja?”

“Entahlah. Satu jam? Dua jam?”

Aku berbalik menatap Aisyah. Dia sudah kembali menyelam ke dalam dunia bukunya. Jika sudah seperti itu, mungkin hanya Tuhan yang bisa membuatnya berhenti membaca.

Orang-orang selalu berkata aku beruntung memilikinya. Cantik, pintar, bersahaja, bak putri raja. Aku pun setuju dengan perkataan mereka. Aku memang beruntung karena memilikinya, beruntung karena dia akan selalu ada untukku. Meski alasanku berbeda dengan yang mereka katakan.

Aku menatap wajahnya. Wajahnya khas keturunan sunda. Meski begitu ada cahaya yang bersembunyi di dalamnya. Bukan tipikal cahaya yang membuatmu betah memandangnya, tapi tipikal cahaya yang membuatnya tidak tahan memandanginya terlalu lama. Tipikal cahaya yang akan membakarmu jika kau terus memandanginya. Karena itu aku tidak pernah terlalu lama memandanginya. Hanya dosis kecil untuk membuat hariku sedikit lebih berarti.

“Kenapa? Ada sesuatu di wajahku ya?”

Dia memegangi wajahnya, berusaha mencari apapun yang membuatku terus memandanginya.

“Enggak ada kok.”

“Hem…”

Ada sedikit jeda sebelum dia kembali ke bukunya.

Aku hanya terdiam di bangkuku, memandang kosong pemandangan di depanku. Pemandangannya abu-abu, sungguh tidak menarik bagiku. Terkadang terdengar suara gesekan kertas di sampingku. Suara yang entah kenapa terdengar seperti musik di telingaku. Bagai oasis di tengah padang pasir.

“Nanti kita turun dimana?”

Butuh sedikit waktu dan jeda untuk memproses pertanyaannya. Aisyah sendiri masih terpaku dengan bukunya.

“Di Jombor aja. Dari sana kita naik taksi ke kosanmu.”

Aisyah hanya diam. Jeda yang dia buat membuatku canggung. Aku memandangnya. Dia menutup mulutnya dengan buku, berusaha memikirkan sesuatu.

“Aku pulang sendiri aja.”

Kata-katanya terdengar seperti ultimatum. Tapi aku sadar, di balik nadanya tersembunyi kekhwatiran, keperdulian, dan rasa sayangnya kepadaku. Karena itulah aku selalu bersyukur, bersyukur karena dia bersedia ada di sampingku.

“Maaf. Nanti kita bareng aja. Lebih nyaman seperti itu.”

Aisyah adalah wanita yang kuat. Dan kekuatannyalah yang membuatku  bertahan. Namun ada kalanya dia terlihat lemah, tak berdaya, dan seolah menyerahkan segalanya kepadaku. Dan di saat seperti ini, salah satu kecantikannya terlihat. Dia terlihat, kau tahu, imut.

Kepalanya bersandar kepada bahuku. Mungkin ia berusaha mencari rasa aman, atau memberikannya? Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tapi satu hal yang selalu aku tahu.

Aku selalu saja bersyukur dia bersedia ada di sisiku.

Minggu, 22 Februari 2015

Fated to End - Prologue

Prologue - Akhir dari Sebuah Awal

“Maaf, tapi kamu harus mati.”

Aku memandanginya, wajah satu-satunya pria yang kucintai setulus hatiku. Cintaku kepadanya sangat besar, meski aku sadar dia tidak mengetahui dan tidak akan pernah mengetahui hal tersebut. Aku tidak pernah mengatakan kepadanya dan tidak akan pernah aku biarkan seorangpun mengatakan kepadanya. Jauh di dalam hatiku terpendam suatu ketakutan. Aku takut dia akan membenciku jika  sedikit saja kata-kata itu keluar dari mulutku. Walau aku yakin, dia mencintaiku meski hanya sebagai seorang sahabat. Namun bagiku, menjadi seseorang yang berarti baginya saja sudah terasa memuaskan.

“Hanya di tanganmu, aku sudi mati, Ahmad.”

Aku memberikan senyuman terbaikku kepadanya. Dia sedang menderita. Aku tahu itu.  Aku merasakannya, jauh di dalam sana. Bayangkan! Adakah orang waras yang sanggup membunuh orang yang sudah kau anggap sebagai teman, sahabat, sekaligus keluarga? Tidak. Aku yakin tidak ada satupun orang waras yang sanggup melakukannya, tidak kecuali dia. Dia ahli, sangat ahli terlalu ahli malah, membunuh perasaannya sendiri. Andai saja aku bisa berbohong, mengatakan kepadanya kalau aku membencinya, menipunya, memanfaatkannya, dan semua hal laknat lainnya, pasti dia akan sedikit lebih baik. Tapik aku tidak bisa, aku tidak bisa. Aku terlalu mencintainya.

“Selamat tinggal, Yosef.”

Tatapan kosongnya dan suara letupan pistol adalah hal terakhir yang tersampaikan ke dalam otakku dengan damai. Detik berikutnya aku hanya bisa merasakan timah panas yang bertengger di kepala dan jantungku. Rasa sakit tak terkira menggerogoti aku dengan lahap, jiwaku dan juga ragaku. Perlahan-lahan aku sadar, inilah akhirku.

Tidak! Tidak! Tidak! Satu kali saja, satu kalimat saja, satu kata juga tak apa, ada hal yang harus aku sampaikan kepadanya. Satu saja, satu saja, satu permohonan tulusku yang bagaimanapun juga harus kusampaikan kepadanya. Mungkin ini egois, tapi aku harus mengatakannya.

Tolong, tolonglah, jika kamu memang ada di atas sana maka bantulah aku! Gerakkan lidahku, lidahku yang kelu ini. Ayolah lidah, bergeraklah! Sedikit saja! Untuk yang terakhir kalinya. Ayo lidah! Ayolah! Ayolah! Ayo! AYO!

“               “

Terima kasih. Bagiku hanya itu yang berarti.

Kata-kata terakhirnya beresonansi dengan suara tubrukkan tubuh dalam ruangan itu. Semesta terhisap, semuanya hening, memberikan setitik ketenangan bagi setiap jiwa yang pergi. Alam menghormati kepergian setiap jiwa yang pergi, bagaimanapun bentuknya. Sedangkan bagi pria itu, ini hanyalah sebuah kematian. Kematian mereka berdua.

Muhammad Edward - 22-02-2015
Re-edit - 23-02-2015, di tengah gelapnya lampu yang padam.
I'll explain it in the next chapter

Minggu, 15 Februari 2015

Sex <-> Cinta

Dibaca "Relasi antara Sex dan Cinta"

Karena kebetulan kemarin adalah hari valentine yang sering dihubungkan dengan kasih sayang dam canal nerves. Aku ingin naik stream dan mempos tulisan yang masih ada sangkut pautnya dengan hal tersebut.

Relasi cinta dan seks ada dua macam. Seks karena cinta, dan cinta karena seks. Ayo bahas satu-satu.

Seks karena cinta.

Mungkin hal pertama yang ada di pikiran kita semua adalah gambaran seorang cowok yang maksa ceweknya buat senggama dengan ancaman nanti bakal di putus. Padahal gak cuma itu aja.

Puncak dari hal ini adalah pernikahan. Pernikahan dengan dalih agar bisa melakukannya dengan bebas adalah hal yang wajar. Meski aku gak tahu bagaimana itu di gambaran berbagai agama, tapi aku yakin alasan itu masih di absahkan. Dari pada senggama di luar nikah yang sampai ini belum kutemukan dalil diperbolehkannya di agama manapun, lebih baik nikah bukan?

Selain di atas ada juga beberapa pasangan dewasa yang melaksanakan seks di luar nikah dengan kesadaran penuh apa yang telah dia lakukan dan tentu dengan tanggung jawab. Saya menghormati apa-pun keputusan masing-masing individu karena itu hidup anda. Selama m dan f bisa baik menghadapinya, saya hanya bisa berharap mereka bisa bahagia.

Cinta karena seks

Yang saya maksudkan di sini adalah orang yang bercinta karena ingin bersenggama. Hal ini menyebabkan rasa masam di lidah saya ketika menulisnya. Tipikal orang yang menggerogoti kepolosan wanita dengan atas nama cinta, aku tidak bisa sejutu dengan orang seperti ini. Mengerti gak sih maksudku?

Yang mereka mau itu cuma seks. Cinta cuma di jadikan alasan dan jalan untuk melakukannya. Menyebalkan bukan?

Soal canal nerves. Sebenarnya ada beberapa jenis lagi menurutku.

Seks demi kesenagan.
Animal behavior.

Rabu, 11 Februari 2015

Masayoshi Yamazaki - One More Time, One More Chance [Indonesian Translation]

Romaji

Kore ijou nani wo ushinaeba kokoro wa yurusareru
no
Dore hodo no itami naraba mou ichido kimi ni aeru
One more time kisetsu yo utsurowanaide
One more time fuzake atta jikan yo

Kuichigau toki wa itsumo boku ga saki ni oreta ne
Wagamama na seikaku ga naosara itoshiku saseta
One more chance kioku ni ashi wo torarete
One more chance tsugi no basho wo erabenai

Itsu demo sagashite iru yo dokka ni kimi no sugata
wo
Mukai no hoomu rojiura no mado
Konna toko ni iru hazu mo nai no ni
Negai ga moshimo kanau nara ima sugu kimi no
moto e
Dekinai koto wa mou nanimo nai
Subete kakete dakishimete miseru yo

Sabishisa magirasu dake nara
Dare demo ii hazu na no ni
Hoshi ga ochisou na yoru dakara
Jibun wo itsuwarenai
One more time kisetsu yo utsurowanaide
One more time fuzake atta jikan yo

Itsu demo sagashite iru yo dokka ni kimi no sugata
wo
Kousaten demo yume no naka demo
Konna toko ni iru hazu mo nai no ni
Kiseki ga moshimo okoru nara im sugu kimi ni
misetai
Atarashii asa kore kara no boku
Ienakatta suki to iu kotoba mo

Natsu no omoide ga mawaru fui ni kieta kodou

Itsu demo sagashite iru yo dokka ni kimi no sugata
wo
Akegata no machi sakuragichou de
Konna toko ni kuru hazu mo nai no ni
Negai ga moshimo kanau nara ima sugu kimi no
moto e
Dekinai koto wa mou nanimo nai
Subete kakete dakishimete miseru yo

Itsu demo sagashite iru yo dokka ni kimi no kakera
wo
Tabisaki no mise shinbun no sumi
Konna toko ni aru hazu mo nai no ni
Kiseki ga moshimo okoru nara ima sugu kimi ni
misetai
Atarashii asa kore kara no boku
Ienakatta suki to iu kotoba mo

Itsu demo sagashite shimau dokka ni kimi no egao
wo
Kyuukou machi no fumikiri atari
Konna toko ni iru hazu mo nai no ni
Inochi ga kurikaesu naraba nandomo kimi no moto e
Hoshii mono nado mou nanimo nai
Kimi no hoka ni taisetsu na mono nado

Credit : JPop lyrics

Indonesia

Jika aku kehilangan lebih dari ini, akankah hatiku termaafkan
Jika rasa sakit yang lebih dari ini, bisakah membuatku bertemu denganmu sekali lagi
Sekali lagi, musim yang tak memudar
Sekali lagi, waktu kita hanya bermain-main

Saat bertengkar pasti selalu saja, aku yang pertama kali mengalah
Justru sikap egoismu itu yang buatku semakin jatuh cinta
Satu kesempatan lagi, kakiku terpaku oleh ingatan
Satu kesempatan lagi, aku tidak bisa memilih tempat berikutnya

Aku selalu saja mencari, entah dimana bayanganmu
Di peron seberang, jendela-jendela di jalanan
Padahal tak mungkin kamu ada di tempat seperti ini
Jika harapan bisa terkabul, saat ini juga berada disisimu
Hal yang belum kulakukan sudah tak ada lagi
Mempertaruhkan segalanya hanya karena ingin mendekapmu

Jika aku hanya ingin mengusir kesepian, siapa saja seharusnya tak penting
Justru karena malam yang bintangnya terlihat akan runtuh, aku tak bisa membohongi diriku
Sekali lagi, musim yang tak memudar
Sekali lagi, waktu kita hanya bermain-main

Aku selalu saja mencari, entah dimana bayanganmu
Di persimpangan jalan, di dalam mimpi
Padahal tak mungkin kamu ada di tempat seperti ini
Jika mukjizat dapat terjadi
Saat ini juga aku ingin menunjukkan kepadamu
Esok yang baru, diriku yang akan datang
Kata suka yang tak sempat terucapkan

Ingatan musim panas yang selalu berputar
Detakan yang tiba tiba menghilang

Aku selalu saja mencari, entah dimana bayanganmu
Di ujung jalan, di sakura-cho
Padahal tak mungkin kamu datang ke tempat seperti ini
Jika harapan bisa terkabul
Saat ini juga berada disisimu
Hal yang belum kulakukan sudah tak ada lagi
Mempertaruhkan segalanya hanya karena ingin mendekapmu

Aku selalu saja mencari, entah dimana kepinganmu
Toko dalam perjalananku, sudut sudut koran
Padahal tak mungkin kamu ada di tempat seperti ini
Jika mukjizat dapat terjadi
Saat ini juga aku ingin menunjukkan kepadamu
Esok yang baru, diriku yang akan datang
Kata suka yang tak sempat terucapkan

Akhirnya aku selalu saja mencari, entah dimana senyumanmu
Di persimpangan rel, menunggu kereta yang lewat
Padahal tak mungkin kamu ada ke tempat seperti ini
Jika kehidupan selalu berulang, berapa kalipun akan selalu mencarimu
Aku sudah tidak memiliki hal yang kuinginkan
Tidak ada yang lebih penting dari dirimu

Jumat, 06 Februari 2015

Rotten World

I'm change.

Oke, itu cara yang aneh untuk memulai sebuah tulisan. Dan meski judul diatas terlihat sangat hiperbolatisme, kenyataannya aku hanya akan lebih membahas tentang diriku. Dan seperti yang kukatakan, tentang perubahanku.

I'm a perv

Oke. Lagi-lagi itu cara yang aneh untuk mengisi interlude.

Baiklah, seperti kataku. Aku memang seorang perv. Tapi tolong di garis bawahi kalau perlu pakai bold. Aku hanya tertarik pada literatur. Oke, di writterku gak ada underline.

Moving over. Oke, lebih jelasnya lagi aku hanya tertarik dengan literatur dan manga. Aku tak akan mau asal melihat yang aslinya.

Btw, alasan ini juga tang buat aku berpikir 2 kali untuk pacaran.

My POV is Crumble

Oke, dengan menarik kesimpulan poin ke dua di atas. Aku seharusnya dapat toleran dengan kegiatan semacam itu di film atau anime sampai kadar tertentu. Sehingga aku gak perlu wah, weh, woh, lagi dengan yang begituan.

Tapi

Sang Rotten World menjejalku dengan kenyataan.

Terra formar, adalah nama sebuah anime yang mengubah cara pandang duniaku menjadi sangat gelap. Anime yang tadinya aku harap bisa menjadi sekedar anime seinen dengan aksi. Ternyata memberikan impak yang berlebih.

Adolf, aku lupa nama panjangnya, adalah sang pelaku utamanya. Kisahnya yang diselingkuhi istrinya yang dia sayangi SEPENUH mati yang mengajarkanku kenyataan. Sebenarnya bukan ini kali pertama aku bersenggolan dengan perselingkuhan.

Beberapa bulan sebelumnya aku membaca sebuah literatur dari dee yang berjudul kesatria, putri, dan bintang jatuh. (kemana aja lu baru baca?) Di novel tersebut juga mengangkut perselingkuhan antara putri dan bintang jatuh. Tapi mereka berbeda, entah kenapa terasa berbeda.

Lalu terra formar? Apa yang ia lakukan sehingga membuatku sebegini muaknya dengan istri adolf. Ayo kita telusuri jejaknya.

Berawal dari pertemuan mereka berdua yang romantis, kencan, pejodohan, yang hingga berujung ke pernikahan. Semua itu terlihat manis. Adolf yang memang kerja di u nasa harus pergi jauh ke markas pusat untuk pekerjaannya.

Dan sekembalinya ke rumah, buah, istrinya sedang bercinta dengan pria lain. Tapi Adolf hanya bida bersedih mengenainya. Dan memaafkan istrinya yang meminta ampun. (kalau aku mungkin udah yak sayat). Lalu istrinya melahirkan anak. Hanya untuk berteriak "aku bukan anakmu". From this point onward, yang Adolf rasakan hanyalah kesedihan konstan dan statis yang tidak pernah ia ledakka.

Sesuai tugasnya, Adolf pergi ke mars menjalan misi agung nan berbahaya mengumpulkan sample virus baru di planet tetanga itu. Sementara istrinya berduaan dengan pria lain. (What a bth).

Adolf dalam pelariannya untuk melupakan masa lalunya yang menyedihkan bertarung dengan pasukan kecoa mutasi. Dengan kesedihan yang bertumpuk di ruhnya, ia membunuh banyak kecoa. Meski hampir mati, dia kembali lagi. Demi sebuah harapan yang baru, para anggota krunya. Meski ia akhirnya mati bersama rekan seperjuangannya. Tersenyum dalam perang, kebahagiaan yang pada akhirnya ia dapatkan.

Salute to Adolf-san t_t7 (aku gak tau emojinya)

Sementara itu istrinya bersolek untuk menemui selingkuhannya. Cuih.

Di segi lain, ada dua hal yang bisa kita pahami dari cerita pendek yang memakan beberapa episode ini.

Point 1 - Jangan pernah menikah dengan istri yang gak bisa di tinggal pergi.
Point 2 - Keluasan hati Adolf-san sangatlah lebar, namun cara yang digunakan merusak jiwa diri sendiri. Jadi, jika anda mengalami masalah yang serupa. Tolong jangan segan untuk membicarakannya dengan istri anda dan mungkin guru yang bisa anda percayai. Jangan orang tua. Percaya deh, brabe.

Di akhir sesinya, mas adolf meninggalkan pesan untuk istrinya yang dia sayangu.
"Kamu lah yang mengajari aku yang seperti monster ini cara menjadi manusia, tetapi kenapa malah kamu yang melakuka tindakan layaknya seeokor hewan."

Aku juga akan berkata.
"Jika kau melakukan h dengan beralaskan cinta, sehingga akibatnya kamu melakukannya dengan banyak orang. Karena kamu mencintai banyak orang. Maka kamu lebih rendah dari binatang."

Sebenarnya itu line yang mau aku pakai di fanfikku. Tapi, aku taruh disini dulu untuk sementara. Karena masih tahap preparing.

Kamis, 05 Februari 2015

Sawano Hiroyuki[nZk] - 0.Vers

Japanese (Romaji)
I never meant to make you so numb
Even though I want to see you smile again
Toyed with in their deep plots like a doll
Eyes won't sparkle no more

You're our only Messiah, but it was just my desire
My heart bled at the sight
That brought me torture over and over
How dare you decided he's the ONE
All my tears've been run out

My life has turned too dusty like vampire
I'm gonna rust out and struggle in the flame of fire
All my fears had been stained
But my scars are still remained
How much I've got to lose?
My dear, where's a ray of hope?

Found myself fallen in the dark side of Mars
From my dead asleep dreaming
Why I swear fake allegiance to that girl
Until I let you down

There's no sound of your breathing
Still your room is so freezing
My heart bled at the sight
That brought me torture over and over
It's something I must live with everyday
Now I know there's no way out

My life has turned too dusty like vampire
I'm gonna rust out and struggle in the flame of fire
All my fears had been stained
But my scars are still remained
How much I've got to lose?
My dear, where's a ray of hope?

My life has turned too dusty like vampire
I'm gonna rust out and struggle in the flame of fire
All my fears had been stained
But my scars are still remained
How much I've got to lose?
My dear, where's a ray of hope?

How does it come to the perfect ends?
While I'm refusing to make amends
So much hurts, so much hates are grown up
Your phantom made me hold on for my dear life

Indonesia
Aku tak pernah bermaksud membuatmu begitu kaku
Meski aku ingin melihatmu tersenyum lagi
Dipermainkan dengan plot dalam mereka layaknya sebuah boneka
Mata yang tak'kan bersinar lagi

Hanya kau lah Juru Penyelamat kami, tapi itu hanya keinginanku
Hatiku berdarah di depan pemandangan
Yang menyiksaku lagi dan lagi
Bisanya kamu memutuskan DIA sebagai yang terpilih
Air mataku telah kering

Hidupku telah kotor layaknya vampir
Aku akan mengkarat dan meronta dalam lautan api
Semua ketakutanku telah ternoda
Tapi bekas lukaku masih tersisa
Seberapa banyak aku harus kehilangan?
Sayang, dimana secercah harapanku

Menyadari bahwa aku telah terjatuh ke dalam sisi gelap Mars
Dari lamunanku
Kenapa aku menjanjikan kesetiaan palsu kepada gadis itu
Hingga aku mengecewakanmu

Nafasmu tak terdengar
Tapi ruanganmu sangat dingin
Hatiku berdarah di depan pemandangan
Yang menyiksaku lagi dan lagi
Namun aku harus hidup dengannya setiap hari
Sekarang aku tau tidak ada jalan keluar

Hidupku telah kotor layaknya vampir
Aku akan mengkarat dan meronta dalam lautan api
Semua ketakutanku telah ternoda
Tapi bekas lukaku masih tersisa
Seberapa banyak aku harus kehilangan?
Sayang, dimana secercah harapanku

Hidupku telah kotor layaknya vampir
Aku akan mengkarat dan meronta dalam lautan api
Semua ketakutanku telah ternoda
Tapi bekas lukaku masih tersisa
Seberapa banyak aku harus kehilangan?
Sayang, dimana secercah harapanku

Bagaimana bisa berakhir sempurna?
Sementara aku tak berusaha memperbaikinya
Begitu banyak luka, kebencian yang tumbuh
Bayanganmu lah yang membuatku mempertahankan kehidupan ini

Rabu, 04 Februari 2015

Pemandangan yang kami lihat

Langit yang kulihat
Adalah langit biru membentang
Yang terlalu luas
Yang indah selalu kukagumi

Langit yang kulihat
Adalah langit hitam yang pekam
Yang terlalu luas
Yang selalu aku takuti

Daratan yang kupandangi
Adalah tanah subur yang luas
Hutan-hutan yang rimbun
Dan laut yang membentang

Daratan yang kupandangi
Adalah tanah tandus yang luas
Hutan-hutan besi rimbun
Dan air dalam yang sepi

Kehidupan yang aku tinggali
Adalah kehidupan yang biasa
Pergi kesekolah, bergaul dengan teman
Sungguh kehidupan yang biasa

Kehidupan yang aku tinggali
Bukanlah kehidupan yang biasa
Diajarkan mentor, menghadiri pesta dansa
Bukan kehidupan yang biasa

Dunia yang aku tinggali
Adalah planet biru yang tenang
Manusianya yang seenaknya
Menyakiti planet ini

Dunia yang aku tinggali
Adalah planet merah yang tenang
Manusianya yang berjuang
Membangun planet ini

Aku hanyalah seorang pelajar
Yang hidup dengan monoton
Hanya melakukan yang perlu
Dan seefektif mungkin

Aku adalah seorang putri
Yang harus berjuang keras
Mewujudkan mimpi bodoh
Yang direndahkan oleh orang lain

Andai perang ini tidak terjadi

Andai pertemputan ini tidak terjadi

Mungkin aku tidak akan bertemu dengannya

Pasti aku tidak akan mengenalnya

Aku tidak suka perang ini

Aku membenci pertempuran ini

Ku harap ini cepat berakhir

Kenapa kita tidak berdamai saja

Tapi di dalam hati aku bersyukur

Tapi ada kalanya aku bersyukur

Karena perang ini aku bisa bertemu denganmu
Dan memandang pemandangan yang sama
Mendengar suara yang sama
Dan membagi perasaan satu sama lain

Tapi perang ini harus di akhiri
Segera

To Inaho Kaizuka and Asseylum Vers Allusia

Selasa, 27 Januari 2015

Waltz of You and Me

Inilah ruang dansa
Ruang dansa kau dan aku
Ruang dansa milik kita

One two three
One two three
One two three

Genggam tanganku
Lemaskan bahumu
Biarkan semua mengalir

One two three
One two three
One two three

Injaklah kakiku
Aku pun belum terbiasa
Malam ini dansa pertamaku

One two three
One two three
One two three

Kenapa ku terlihat jago?
Jangan bercanda
Aku hanya dibimbing

Siapa?
Tidakkah kau mendengarnya?
Tuntunan tangan partitur?

The waltz of you and me
Kimi to boku no waltz
Waltz milikmu dan diriku

One two three
One two three
The waltz of you and me

-///-

I'm writing this while listening to "Waltz" from the Sleeping Beauty.

Senin, 19 Januari 2015

IntrovertxExtrovert

You know, sometime I was thinking wether that I'm an introvert or extrovert. Hem, I guess I'll take the introvert one. You see, sometime I didn't like talking with other... Scratch that, I love talking with other, blabbering about the think I like, with someone I love, isn't it a sign of an introvert.

Well, those kind is doesn't really matter anyway. Beside, I'm just a quasi person, just a quasi inextrovert. Funny eh, but I believe there are more people like me in the world. You know? The grey zone, not white nor black, just a blend of those color. But, it doesn't really have to grey zone of black and white. It can also be a purple zone of blue and red,  an oranges zone of red and yellow, or a green zone of blue and yellow. And there you go the three basic color l, TeeHee.

Putting asside the bending of the color, most people in the society have the tendency to become a quasi one. Rather, I would rather state that, I see no many persons in this time is at the pure zone. All introvert also sometime want to have a silent time with other, when some extrovert want some time together with just himself.

Human basically is a social organism. There is no human who can live by himself, just like stated at book "The Guidance of Life: All You Need in Two Pact." it's has been proved that there are no human that can live in seldom.

But, in the past society those kind of interactions describe like when you go to market to sell something, or go to faming to buy something. While that is the cass in the past, now is something that feel trivial in society nowadays.

Internet, phone, there many thing that can shrink the sense of distance incredibly. Yet, it also a device that can make a gap of human so great.

If you want to buy something, you can just by it online. If you want to sell something, well basically you don't have to sell something to gain money. And thus, the gap of human heart is growing more and more large.

And here come a wonderful solution, a savior called social media. A place to connect with other, or so what they say. It's true that you can get many friend count on the Facebook. You can get many follower count on the Twitter. Yeah, it's good, really good, you will famous in your classroon, you somehow feel like a riaju, and then you realize. I don't f#cking now those people. Buy the way, it's the cass for me.

I have a count of friend of thousand, but I don't f#cking remember who they are. I absolutely really sure, if it come to a real acquaintance of me it will down to three digit with first digits below 2. And if it come down to real friend it will come to two digits. It's not like I despise the idea of having an online friend. Because virtual world has become one of the society ground nowaday. It's not something wrong. It just "what the point if you don't get know to her/him in real life." It sure is great to have friend of the same hobby virtually just like the community of anime, manga, car, motorcycle, and much other stuff. So, the best way is to also know them in real world.

Wait a sec, look like I have loose from the point of my talk. This is what I want to talk.

There are may be an introvert with the skill to communicate greatly on a one on one conversation. There are may be an extrovert who can affect their surroundings by their charisma. There are maybe an introvert which so clingy on solitude to the point that he doesn't want to communicate with other. There are may be an extrovert which is so like to saying what they want to the point he doesn't look at other.

Whether is it, the problem is not because he is an introvert or extrovert. The most important thing is that you always be the way you are.

Just like Inaho who take dowbn Rayet heart by saying "Aku tidak perduli apakah kau orang bumi atau orang mars." Maka aku akan mengatakannya untuk menjatuhkan hatimu. "Aku tidak perduli apakah kau intro atau extro, aku menyukaimu karena kamu adalah kamu."

Though you is not you.

Tale of Jack Frost

One day, there was man. This man is not make from a flesh. nor a bone, neither it from a dirt or stone. The man was from a snow. The man was just an ordinary snow man. He went to the field at the morning and back to the home in the evening. The man was a very diligent people. He never once mist his work on the field, nor di he forgot to give his gratitude to god every night. And so, the man wad doing that all the time, all by himself.

Even though the man was all by himself. He was never once feel solitude. Becausr, he too never knew how the solitude feel.

Until one day, he felt something. It was not solitude. It is a curiosity. He wish to knew, he want to knew, how did having a friend felt? So, Jack is asking the god. "O almighty god, I hath serve you all this time, I hath giving thou alt my gratitude and alt my heart. So god, to this lamb who never once asking you one thing. I wish just one thing. Please, give me a friend." And so, Jack wish to the god every day in every night.

And then, god granted Jack his wish. He gave him a friend, someone just like him. But, The God warned him. He said that this friend of him will only continued to exist just for one day. But, Jack who is blinded by the happiness of the new friend thought nothinh about this matter. And Jack played, played, played, and played with him. Not knowing of tired, nor of boredom, Jack played with his new friend. And when the time came for the two of them to saying goodbye, they slept, slep so quietly. And without realizing anything, the friend of Jack is gone forever.

In the next morning, Jack was wake up. The first thing that he sees is ceiling, a very familiar ceiling of his own home. Jack was smirking. He was smirking because he know that he got a friend. He was pinching his cheek, just to make sure he wasn't dreaming right now. Confirming it, Jack stood up and looking at the place where his friend was sleeping last night.

Jack is frown, he saw nothing there. The friend who should had been there is none to see. But he not confused, he believe that he only went to back. So Jack wake up and went preparing some food. After that, Jack sit down and wait for his friend.  He waited, waited, waited, and waited. Wait till his sense of time become dull. And then he realized, the word that said by the one who made his wish true.

"I'll grant your wish, but those friend of yours can only existed for only one day. Treasure your time with him, because you well never have second time in your life."

Jack Frost is frowned, he felt sad. Sad, sad, sad, little by little his feeling changed into rage. He is throw a tantrum. If he able to kill God, he maybe already went and killed Him. But, Jack know he can't do such thing. So he cursed, cursed, cursed, and cursed. Consume by his own rage, Jack's pure white body which make of the purest snow turned into black, a pitch black snow. So black that you if see onto it you will feel a deep sensation, a deep, pitch, and sorrowful black.

Later, people will know those Jack Frost as Black Frost.

End

Accordance to Persona Series Black Frost history.

Sabtu, 17 Januari 2015

Ding Dong

Ding dong
Are you there

Ding dong
Were you there

Ding dong
Let's get out

Ding dong
Say something

Ding dong
Hey, say a word

Ding dong
Ding dong

Hey
Can you say something please