Selasa, 07 Juni 2016

Gunpla Battle : Fragment

Disclaimer : Gundam, gunpla,dan semua nama merk disini adalah milik pemilik hak ciptanya masing-masing,saya menggunakannya demi kemudahan penamaan. Tidak ada maksud untuk meng-klaim-nya sebagai milik pribadi.

Nama tokoh yang saya adakan disini adalah dari hasil kreasi eksplorasi nama yang ada di Indonesia. Kesamaan nama, tempat, dan alur cerita dengan apa-pun adalah ketidaksengajaan.

<><><>

Gunpla, beberapa orang mungkin akan mengenalinya, dan beberapa orang mungkin tidak.Beberapa orang mungkin akan mengenalnya sebagai sebuah seni, sebagian yang lain hanya menganggapnya sebagai sebuah mainan untuk anak-anak, meski mungkin itu tidak tepat, karena gunpla (tadinya) tidak bisa digerakkan, atau mungkin sebenarnya tidak. Semenjak pengembangan Plavsky Partikel, partikel khusus yang membuat gunpla menjadi mesin, beberapa tahun yang lalu, Gunpla benar-benar bisa dimainkan, tidak hanya dipajang.

Dan sekarang, ber-main gunpla bukanlah yang khusus, namun juga, terkadang masih dianggap aneh di mata beberapa orang. Meski begitu, bagi anak muda yang menyenanginya, mereka tidak akan memikirkan pandangan sekedar dari beberapa orang.

Dan seorang yang masuk ke katogeri itu, sekarang sedang berada di dalam sebuah kereta. Dia memandangi sebuah selembaran dengan tanda G.O.I, dikenal sebagai Gunpla Organitation of Indonesia, organisasi yang bergerak dengan tujuan untuk memudahkan dan menyebarluaskan tren gunpla ini. Kertas yang dia pegang adalah sebuah catatan pesanannya kepada perusahaan mereka.

Karena satu dan dua hal, Andi, harus langsung mengambil barangnya di ibu kota negara ini, Djakarta. Tadinya dia agak sedikit gusar karena tidak tahu jalan disana. Tapi,karena ada seorang teman lama yang bersedia mengantarkannya, maka dia kini dengan tenang kesana.

Andi mengenggam kuat tasnya, dan mencoba menutup tudung jaketnya. Dia sedang berusaha keras mengusir debaran di hatinya. Seorang cewek sedang tidur di bahunya. Andi tidak yakin kenapa hal ini bisa terjadi, karena di awal perjalanannya dia tertidur. Memang jalur ini bukan jalur yang lama, tapi kelelahan karena mengerjakan tugas “neraka” dari dosennya telah membuat ia tak berdaya, maka ia memutuskan untuk mundur ke dunia mimpi di awal tadi.

Melihat kondisinya sekarang, ia sangat menyesal akan apa yang dia lakukan. Sedari tadi, orang yang lalu lalang melaluinya hanya menatapnya dengan senyum penuh makna.

[Apa ini, pertama kali ke Djakarta, dan aku sudah disangka sebagai pasangan seseorang yang bahkan tidak aku kenal.]

Andi menjerit dalam hatinya.

Ia memerhatikan figur gadis di sampingnya. Wajahnya tidak bisa dibilang cantik, karena Andi sendiri memang tidak mengerticantik itu apa, tapi dia yakin kalau gadis itu memiliki wajah yang senang dia lihat. Hal yang paling menariknya adalah sebuah kacamata hitam yang bertengger elegan di atas hidungnya yang sedikit mancubg. Rambut panjangnya sekali-kali menyentuh pipi Andi, menghantarkan harum yang semerbak.

Andi bukanlah orang yang sangat alim, namun dia juga bukan orang yang senang berfikiran kotor terhadap orang yang baru ditemuinya. Karena itu dia berusaha sekali lagi untuk menekan insting prianya, maka ia berusaha untuk kembali ke alam tidurnya,bersamaan dengan itu - Bel yang menandakan kereta sudah dekat stasiun pemberhentiannya menyala.

Sadar kalau gadis dia harus turun, Andi sedikit ragu apakah ia harus membangunkan wanita itu atau tidak. Menelan ludah, ia mengguncang enteng bahu gadis disebalahnya.

“Mbak, sudah mau sampai.”

Andi mengguncangnya dengan memendam kegusaran yang besar, wajahnya sedikit memerah,namun dia tetap memaksa untuk menunggu reaksi gadis itu, yang mulai terbangun dengan wajah yang sangat menawan.

“Ah, maaf ya mas. Sekarang sudah sampai dimana ya?”

Gadis itu sudah kembali ke alam sadar dengan cepat, mungkin karena tempat tidur yang kurang nyaman yang membuatnya begitu.

“Kampung baru mbak.”

Mendengar jawaban Andi yang agak terlambat, gadis itu hanya memandanginya.

[Apakah dia sadar akan cepatnya detak jantungku.] Andi berfikir begitu, ia tidak ingin dinilai buruk oleh orang yang baru ditemuinya.

“Ehem…” Gadis itu tertawa dengan agak tertahan. Alasannya segera terlihat setelah itu.

“Saya masih sma mas.”

Andi hanya bisa menganga mendengar jawaban dari gadis sma di depannya yang tersenyum dengansenyuman yang sangat menawan.

<><><> 

Turun dari kereta, Andi berjalan ke pintu keluar, bersama seorang gadis.

“Jadi kamu ke Djakarta ngapain?” Andi menanyai gadis disampingya, gadis yang sama dengan yang tidur di kereta tadi.

“Em…Ada barang yang mau aku cari, kebetulan toko langgananku disini.” Andi memerhatikan wajah gadis itu, meskipun sedikit, dia bisa melihat tanda dari kosmestik di wajahnya.

“Kosmetik ya?” Andi menanyainya karena keingin tahuan, tidak ada niat untuk mencela atau sejenisnya. Tapi, wajah gadis itu sedikit memerah mungkin malu karena pertanyaannya.

“I..iya.”

Andi sekali lagi memerhatikan penampilan gadis itu. Penampilannya biasa saja, namun bisamemberikan aura berkelas tersendiri kepada yang melihat. Baju hitam yang tidak ketat dipadu dengan jeans yang tidak pensil. Ditambah kaca mata yang membuat penampilannya sangat indah. Penampilan itu sangat menyenangkan di matanya.

“Eh, ya udah mas. Aku duluan, mau naik bus.” Gadis itu berjalan sedikit mendahului, dia berjalan ke arah bus. Beberapa langkah dia berbalik dan memandang Andi. Andi memandang balik gadis itu, tingginya tidak jauh beda dengan tinggiku.

“Kalau gitu mas, saya permisi dulu.” Dengan tersenyum renyah gadis itu menyatakan perpisahan.

“Eh tunggu.”Saat dia ingin berbalik pergi, Andi memanggilnya, menahannya pergi meski sebentar. Bagaimanapun juga ia harus tahu.

“Namamu siapa?”Andi memandanginya.

“Aku… Sonya kak.” Dia menjawab dengan tidak memandangnya, mungkin dia tidak suka di tanyai namanya.

Meski begitu, Andi merentangkan tangannya, menaruhnya tepat di arah pandang Sonya. Setelah menunggu beberapa saat gadis itu menatapnya.

“Namaku Andi.”Ia mencoba memberinya senyuman terbaiknya, mencoba untuk membalas senyuman yang Sonya berikan kepadanya.

“Ehe, senyumanmu jelek kak.” Dia tertawa ringan dan menjabat tangan Andi sebentar.

Setelah dia melepaskan tangan Andi mereka saling tersenyum satu sama lain. Tanpa banyak bicara lagi, gadis itu mulai menjauh. Andi hanya terus memandangi sosoknya yanghilang dalam kerumunan manusia.

Senyum sumringah menghiasi wajah Andi yang cerah. Namun dalam sejenak wajahnya berubah, seakan mengingat sesuatu yang sudah lama terjadi. Bahunya jatuh, dan senyumannya menghilang. Dia tidak terlihat seperti dia beberapa saat yang lalu.

Dan tiba-tiba, sebuah lengan terlihat merangkul bahunya. Seorang yang seumuran dengannya,namun memiliki tinggi yang jelas lebih tinggi dengannya, menghampirinya dari belakang.

“Cih, baru dateng ke Djakarta sebentar, sudah dapet cewek nih anak.” Pilihan kata-katanya bisa dibilang tidak sopan, meski memang seperti inilah kondisi bahasa di negara ini.

“Diamlah kau Yuda.” Andi menjauhkan tangan pria yang merangkulnya itu. Merasa tak terganggu, pria itu melangkah ke hadapannya. Dengan tangan yang menyilang, dia memerhatikan Andi dengan mata yang mengganggu.

Pria yang ada di hadapannya adalah Yuda, teman semasa sma-nya yang kuliah di Djakarta,beberapa hari yang lalu Andi menghubunginya untuk minta tolong diantarkan ketoko GOI di Djakarta, karena memang dia sendiri senang dengan Gunpla, maka diapasti tahu lokasi tepat toko tersebut.

Yuda bukanlahorang jahat, meski penampilannya yang agak sedikit tidak bisa Andi mengerti,tapi mungkin inilah yang kebanyakan orangs sebut stylish. Kaus oblong merahdengan sebuah brand terkenal, celana jeans yang tidak terlalu longgar dan tidakterlalu sempit di badannya. Dan jam tangan di tangan kirinya. Sangat cocoksekali dengan label anak Djakarta.

Berkebalikandengannya, penampilan Andi bisa dibilang out of place. Baju berkerah,ditutupi oleh jaket biru-putih custom yang memiliki dua penutup, resletingdiseluruh bagian, dan kancing dari tengah sampai ke atas. Dan saat ini diatidak mengancingkan atau meresletingkan jaketnya. Ditambah sebuah tas ranselyang cocok dengan ukuran badannya yang bisa dibilang normal, di belakangnya.Andi sendiri tidak pernah berfikir tentang orang lain dalam gaya pakaiannya,yang ia perhatikan hanya kenyamanannya.

Yuda membuatpostur aneh dengan tangannya, lalu kepalanya ia tundukkan, dan ia menghelanafas agak panjang. Lalu ia menatap Andi dan berkata. “Hah, kamu sudah ganti gearya?” dengan nada yang kecewa.

“Kamu tidakpernah berubah ya, selalu mengikut motto mu, “The best act base on the place”bukannya karena motto itu tidak sedikit orang yang menganggapmu penipu.” Yudamenunjukkan salah satu sisi aneh temannya itu.

“Aku bukanpenipu, karena aku melakukan apa yang menurutku terbaik berdasar tempat dansuasana. Bukan berarti aku mencoba untuk menipu mereka, aku cuma merasa ituyang penting untukku.” Andi mencoba untuk mengelak temannya, tapi Yuda sendirijuga mengerti keadaan temannya itu.

“Enggak juga,bukan berarti kamu salah. Tapi tidakkah kamu sering dikatai kalau kau tidakmemiliki sosok asli?” Ia bertanya karena sedikit khawatir kepada temannya.

“Aku sudah lamatidak memikirkan itu.” Andi tidak ingin memandang wadah Yuda saat menjawab. Ialalu mengambil langkah melewati Yuda, menuju tempat pemberhentian bus.

“Ayo, kitacepat pergi.” Tidak lama dia berjalan, Yuda memegan tangan Andi dari belakang.

“Kita kesana,aku bawa mobil.” Yuda menunjuk ke arah tempat parkir mobil dengan jempolnya.

<><><> 

“Jadi kamu keDjakarta mau cari apa.” Yuda menanyai Andi yang sedang menghidupkan mobilnya.

Andi sengajamen-delay jawabannya agar Yuda dapat fokus mengeluarkan mobilnya dariarea parker.

Ketika merekasedang mengantri untuk keluar parker, Andi menjawab pertanyaannya denganmemberikan selembar kertas selebaran mengenai barang yang dia cari.

Setelah melihatkertas itu, Yuda memasang ekspresi berfikir, ,mencoba mengingat sesuatu.

“Ini apanamanya? Eee, Plavsky Partikel ….” Yuda berbicara sambil mengembalikan kertasitu ke Andi.

“PlavskyPartikel Density Checking Device, alat pengukuran densitas plavsky partikel.Yah, pada dasarnya itu alat yang mengukur keadaan plavsky partikel di dalamgunpla.” Andi memberikan penjelasan seraya mengambil kembali kertas di tanganYuda.

Saat merekasudah mulai memasuki jalan raya, Andi memerhatikan wajah Yuda yang masihterlihat bingung.

“Sejak pertamakali kemunculannya, Plavsky Partikel sudah menjadi kehebohan sendiri di dunia,terutama di bidang ilmu pengetahuan. Sebuah partikel yang bisa membuat sebuahmainan dari plastik menjadi sebuah mesinyang bisa melakukan berbagai macam hal, juga menciptakan sebuah berbagai macamlandscape arena.PPDCD pada dasarnya adalah alat yang menghitung akumulasiplavsky partikel yang melekat pada berbagai macam bagian gunpla, baik weaponmaupun bagian tubuh.” Andi menjelaskan kepada Yuda.

“Hem, yah, oke.Terus, kalau sudah dihitung mau di apakan? Bukannya plavsky partikel padadasarnya sudah tertempel dengan jumlah dan system yang default ke gunpla? Danandaikan, kamu ingin meningkatkan kemampuan senjata, kita bisa meningkatkankaliber atau sumber energi fiksinya saja. Lalu, kenapa pakai alat yang masihbelum bisa dipastikan kegunaannya?”

“Karena, yangmau aku buat bukanlah weapon, tapi engine-nya.” 

Andimenjawabnya dengan berpalih, seolah-olah dia tidak ingin mendegnar topikpembicaraan seperti ini. Dari dulu sudah menjadi sebuah etika penting untuktidak menanyakan bagaimana seseorang merakit gunpla-nya.

Yuda yangmenyadari hal, itu memutuskan untuk diam saja dan tidak melanjutkanpembicaraannya. Dalam diam dia mengemudi di jalan raya menuju GOI, dan sesekalimembahas info mengenai gunpla dan kit yang lain. Tanpa terasa mereka sudahsampai ke tempat tujuannya.

Kantordistributor GOI yang mereka tuju merupakan kios toko berlantai dua yang dicatdengan warna khas gunpla, putih, merah, kuning. Toko yang berlantaikan dua inimemiliki dua fasilitas bagi pelanggannya, di lantai satu ada kios yang menjualaksesoris gunplan dan alat bantu seperti yang dicari oleh Andi, dan terkadangdi lantai satu inilah diajarkan tutorial tentang gunpla, dari segala macamaspek. Di lantai atas adalah arena battle, siapapun bisa melakukan battle baikdengan gunpla custom atau gunpla asli, disana juga disewakan gunpla bagi yangtidak membawanya.

Kondisi tokosaat itu tidak terlalu ramai, malahan mungkin terlantarkan adalah kata yangterbaik untuk menggambarkannya, tapi itu hanya di lantai satu. Jika melihat banyaknya kendaraan di luar, dansuara-suara di lantai atas, kemungkinan saat itu semua pelanggan sedang adadiatas.

Mereka langsungpergi ke counter customer service, Yuda membeli salam kepada kasir sambillewat, karena memang dia sudah akrabdengan semua pegawai toko ini. Penjaga counter-nya adalah seorang wanita mudayang cantik, mengenakan kemeja panjang dan rok hitam, dia sangat terlihatmenawan bagi siapapun yang melihatnya. Umurnya mungkin hanya terpaut empatsampai lima tahun dengan mereka

“Hai Yud, udahlama gak kesini, kamu mau cari apa?” Wanita itu yang terlebih dahulu menyapaYuda, Yuda yang agak tidak enak sedikit mempercepat langkah kakinya. SedangkanAndi masih tetap berjalan dengan pace-nya sendiri.

“Linda, hariini bukan aku yang ada urusan, temenku mau ngambil barang.” Yuda yang sudah adadi depan counter berbicara sambil menunjuk Andi yang masih tertinggal dibelakang.

Saat dia sampaidi counternya, Andi memulai percakapan dengan memperkenalkan diri.

“Selamat siang,saya ingin mengambil pesanan saya. Saya pesannya dari GOI cabang Jogya, tapikarena ada masalah barang pesanan saya tidak bisa dikirim sampai bulan depan.Karena itu saya mengambilnya disini.” Andi menjelaskan situasinya sambilmenyerahkan selembar pemesanannya.

“Oh ya, kalaubegitu saya minta maaf. Emm, saya lihat dulu pesanannya.” Mbak Linda membacaselembar pesanannya, dan sekelebat senyum muncu dari wajahnya.

“PPDCD satubuah, hem barang cukup jarang untuk di cari. Kebanyakan pemakainya mengakukecewa dan mengatakan itu tidak ada gunanya dan produk gagal atau apalah,kenapa kamu beli alat ini?” Linda menanyai mencoba mengintrogasi Andi.

“Itu rahasiaperusahaan.” Andi menjawab dengan nada yang gusar.

“Ooh, oke.PPDCD atas nama Muhammad Andi al-Fath, saya ambilkan dulu. Kalau mau menunggukalian bisa duduk disana, tapi saya sarankan ke atas aja. Lagi rame tuh!”

Mbak Lindaberbicara dengan nada yang sangat ramah, karena memang itu lah pekerjaannya.Tapi, dia mengatakan sesuatu yang sedari tadi Yuda ingin tanyakan.

“Lin, di ataslagi ada apa sih?”

“Lagi adapemain gunpla yang kuat. Liat aja sana!” Tanpa menunggu jawaban, dia langsungmasuk ke bagian dalam counter, mengambilkan barang Andi.

Saat Lindasudah tidak ada, ada jeda hening sebentar. Tapi, Andi yang sedari tadi terlihatagak gusar memecahkan keheningan itu.

“Yud, diaseorang Title kan?”

Yuda, yangsudah akan berjalan ke lantai atas berbalik dan menjawab, “Ya, begitulah.Jangan terlalu menyalahkan dia ya, karena semua orang juga begitu. Yuk keatas.”

Yuda yang sudahakan berjalan ke tangga di hentikan oleh tangan Andi. Yuda berbalik dan menatapnya.

“Kenapa ndi?”

Andi yangbiasanya agak sedikit kurang emosi terlihat sedikit bingung. Mungkin dia tidaktahu bagaimana menyampaikan apa yang mau dikatakannya. Sedikit kebingungan, dialalu menjawab pertanyaan Yuda.

“Yud, gimanakalau kamu jadi fighter ku.” Andi bertanya dengan mata yang berkaca. Yuda hanyabisa terpaku dan jawabannya…

“Bodoh~~,memangnya kamu mau kita jadi combo kayak Sei-Reiji, mana mau aku. Lagian kauyang juga seorang Title pasti skillnya bagus. Udah lah ayo ke atas.” Tidakmengindahkan permintaan Andi, Yuda terus berjalan ke arah tangga. Andi hanyabisa menundukkan kepalanya dan menghela nafas, dan berbicara dengan nada pahit.

“Dasar kau,broken title.”

<><><> 

Yang sedangbertarung adalah seorang pria dan seorang wanita. Sang pria menggunakan ZGMF –X20A Strike Freedom Gundam. Sedangkan wanitanya menggunakan SYSTEM ∀ - 99 ∀ Gundam, ataulebih di kenal sebagai Turn A Gundam.

Merekabertarung dengan cukup sengit, namun Turn A yang sudah berada di jarak jauh dankesulitan untuk mendekat akan kesulitan untuk menang. Dan pada akhirnya memangseperi itulah yang terjadi.

Mereka yangmelihat dari agak ke jauhan hanya bisa menghela nafas memandanginya.

“Hah, dari tadidia yang menang ya Om Ron?” Om Ron adalah orang yang ada di balik counterpeminjaman gunpla tempat mereka berdiri. Umurnya kini sudah masuk ke tigapuluhan. Dia berpenampilan standar toko ini, kemeja dan celana hitam. Meskiumurnya yang sudah terpaut dewasa, gairah masa mudanya masih bisa terlihat dariwajahnya.

Om Ronsebenarnya menjabat sebagai kepala cabang di kantor ini, namun karena terkadangbanyak orang tau yang meminta penjelasan tentang gunpla, maka Om Ron terkadangberada di sini.

Dia memandangiYuda dan Andi dengan seksama, setelah sedikit berpikir dia menjawab pertanyaanmereka.

“Kalian salahkalau soal itu, yang menang dari awal adalah perempuan muda nan cantik itu.Laki-laki yang dia lawan adalah lawan kesepuluhnya.”

“Eh…” Merekaberdua tampak kaget dan bereaksi bersamaan. Namun, meski begitu, dalam wajahmereka ada sebuah hasrat untuk bertarung. Melihat raut muka mereka yang sepertiitu, Om Ron tidak bisa tidak menawari mereka.

“Gimana? Kalianmau battle? Mungkin melihat pertarungan para title akan membuat nona muda disana banyak belajar.” Andi dan Yuda termenung mendengarkan tawaran Om Ron.

Andi mendengarlalu perkataan Om Ron, dan dia terus melihat ke arah gadis yang dikalahkantadi, sekarang dia ada di pojokan toko dan terdiam di sana. Berbeda dengan Andiyang tidak ingin menjawab pertanyaan Om Ron, Yuda langsung menjawab pertanyaanOm Ron.

“Haha, jangangitu lah Om, pertarungan para Title pada dasarnya bukanlah sesuatu yang bisaditiru oleh orang lain. Karena pertarungan mereka itu khas banget.” Yudamenjawab dengan senyuman yang Om Ron dan Andi ketahui, bahwa itu palsu.

“Hem, kamu yangjuga seorang Title harusnya tau Yud, kalau maksudku dia harus menemukan gayabertarungnya sendiri.” Om Ron berkata dengan halus, meski dia tahu itu akanmenyakiti perasaan Yuda.

“Om, aku bukanTitle lagi, aku hanyalah seorang Broken Title.” Yuda berkata dengan nada yangpahit, Om Ron dan Andi hanya bisa diam mendengar jawaban Yuda.

“Hahaha, iya,kamu seorang Broken Title tidak pantas berada disini.” Pemuda yang tadibertarung kini sudah ada di dekat mereka. Entah sejak kapan, atau untuk alasanapa dia disini, Andi tidak mengerti. Meski begitu, Yuda paham hal itu.

“Rudi, adaurusan apa.” Yuda menjawab dengan nada yang getir.

“Eh, enggak,cuma mau menyapa Broken Title yang gak tau diri dan mampir ke sini lagi.Mungkin, kamu mau diberi sedikit pelajaran lagi?” Rudi berbicara dengan nadayang mengejek. Di matanya penuh dengan penghinaan terhadap Yuda. Dilain sisi,Yuda hanya diam saja terhadap ejekan Rudi.

Andi yang sudahtidak tahan terhadap sikap Rudi bergerak ke arah counter.

“Om Ron, sayamau nyewa gunpla.” Semua yang berada di tempat itu sedikit kaget mendengarperkataan Andi.

:Oh, memangnyasiapa yang mau kamu lawan.” Om Ron bertanya dengna nada bergairah, meskisebenarnya dua sudah tahu siapa yang ingin Andi lawan.

“Tidak, cumaseorang manusia tidak tahu diri yang mencoba menghina temanku.” Andimemprovokasi Rudi, dan tentunya dia tidak diam saja mendengar perkataannya.

“HA? Apa akugak salah dengar, ada anak sma yang mau ngelawanku? Sudah deh dek, mending kamupulang aja sana dari pada nangis.” Andi tidak menggubris perkataan Rudi. Diamengeluarkan sebuah kartu seperti atm berwarna biru, tanda kartu GOI danmemberikannya kepada Om Ron. Itu adalah Kartu Member GOI miliknya.

“Hem, biru ya.”Om Ron berbisik sambil memandangi kartu member Andi, “Gunpla apa?” sambungnya.

“GN-0000+GNR-010– 00 Raiser.” Dia menjawab dengan nadanya pasti.

“Oke, tunggusebentar, GP Base nya perlu?” Om Ron menunggu konfirmasi Andi sambil mengambil00 Gundam yang ada di lemari kaca di belakangnya. Setelah menerimanya, Andimelepaskan beberapa armament, Shield, dan GN Blade.

“Aku tidakperlu ini.” Melihat apa yang dilakukan Andi, Om Ron hanya tersenyum saja.

“Kalau GPbase-nya gak perlu, aku bawa kok.” Om Ron yang kini sudah kembali di hadapannyadengan 00 Raiser di tangannya, dan Andi mengeluarkan GP Base dari tasnya.

Mengambil 00,Andi berbalik dan menghadap Rudi, yang sedari tadi terus mengomel tanpadiperhatikan olehnya.

“Aku tidak sukacaramu yang menghina temanku.” Andi mengatakan itu kepada Rudi yang sudahberhenti mengomel, lalu berjalan ke Battle System.

Battle Systemmulai aktif.

Orang-orangberkumpul untuk melihat pertarungan mereka. Yuda tidak terlalu ingin melihatbattle Andi, namun karena di tarik oleh Om Ron dia terpaksa mendekat. Penontontidak boleh berada terlalu detak dari tempat battle, sekitar dua setengah meterdari Battle System.



Andi dan Rudimenaruh GP Base masing-masing di tempatnya. Rudi terus saja tersenyum sendiri,sedangkan Andi tetap tenang. Lalu, Andi mengeluarkan kacamata dari sakubajunya. Melihat mereka yang akan bertarung, banyak orang yang berkumpul disekitar mereka.



Andi memakaikacamatanya, itu adalah jenis kacamata dengan frame yang tungkai tipis dantanpa frame yang mengitarinya.



Arenapengendali mulai muncul mengitari mereka.



Kedua belahpihak menaruh gunpla masing-masing di atas GP Base mereka. ‘Haah’, Andi menghela nafas panjang, mencoba untuk fokuspada battlenya kali ini.



Memegang bolaimajiner sebagai kontrolernya, mereka berdua berteriak.

“RudiAndriawan, Strike Freedom Gundam, bersiap.” Rudi mengkonfirmasi keadaannyasebelum battle.

“Muhammad Andial-Fath, Gundam 00 Raiser.” Andi mengkonfirmasi dengan nada yang lebih datar,namun matanya fokus dan dia mengerti apa yang harus dia lakukan.

00 Raiser masukke dalam arena luar angkasa, arena kali ini agak sedikit kurang menguntungkanbagi Andi. Karena Strike Freedom yang fokus pada serangan jarak jauh akandengan mudah menembaknya.

Meningkatkanoutput GN Drive-nya, 00 terus melaju ke arah lawannya. Sebuah titik merah,muncul di layar monitor. Andi yang menyadari apa itu langsung menghindarinya,sebuah beam merah hampir mengenainya.

Tidak inginmembuang waktu Andi mempercepat gunplanya, dia berjalan dalam sebuah garislurus, dan akan melakukan manuver sedikit saat leser di tembakan, naik,berputar, kanan, dan kiri, semuanya dalam sebuah keterpaduan. Saat jarak merekasudah tidak terlalu jauh, Andi mengerti bahwa itu adalah saat yang sulit.

Strike Freedommengeluarkan DRAGOON-nya dan bersiap melakukan multiple shot. Beam Merah,Hijau, dan Kuning ditembakkan ke arahnya.

Andibersepkulasi, untuk meng-kover segala kemungkinan menghindar. Beam itu pastisudah di setting menembak dengan jarak tertentu. Dengan pikiran seperti itu,Andi menghentikan gunplanya dan bergerak turun. Tujuannya adalah menerimaserangan sedikit mungkin.

Andi langsungmenggerakan GN Drive-nya kedepan, dia menyebarkan GN Partikel, membuat semacamperisai dengannya. Beam bertemu dengan perisai, untungnya, mungkin lebihtepatnya sesuai rencanyanya, hanya bagian kecil beam yang ditembakkan DRAGOONyang mengenainya. Dan gunplanya tidak mengalami lecet sedikit pun.

“Quasi GN Fieldya, jarang sekari ada yang melakukan itu.” Om Ron mengomentari gerakan yangbaru saja dilakukan Andi. Yuda terus memandangi Battle lalu menanggapinya.

“Yah, karenamemang begitulah kemampuannya.”

Tidak membuangwaktu, Andi mempercepat gunplanya. Mengarahkan GN Blade yang dalam mode gun. keStrike Freedom, dia menembakinya, satu dan dua, dua tembakan dari dua pistol kearah yang berbeda. Tembakan pertama bisa dihindari, namun disitulah yangdiincar olehnya. Tembakan kedua sengaja di arahkan ke tempat dia menghindar.

‘DUM’, pistoldi tangan kiri Strike Freedom meledak. Rudi terlihat gusar melihatpertempurannya. Andi tetap tenang menghadapinya, yang hanya dia lihat adalahmonitor imajiner di depannya yang menampilkan kondisi pertempuran dari mataRaiser.

Strike Freedommenembakkan pistol di tangan satunya, Andi menghindari dengan berputar. Rudimenyadari hal itu menembak ke arah putarannya. Memanfaatkan momentum putar danGN Drive, saat Raiser menghadap ke arah Strike Freedom, dia meningkatkanoutputnya, dan menghindari tembakannya. Orang-orang yang menonton mulai banyakberbicara. Gadis yang tadi dikalahkan juga sudah mendekati mereka.

Memanfaatkansedikit delay reaksi Strike Freedom, Raiser makin mendekatinya. Rudi tidak diamsaja, dia mundur sambil menembakinya. Tapi disitulah salah perhitungannya,ketika dia mundur sambil menembak, meskipun sedikit, dia tidak dalam kecepatanpenuh.

Mengambilkesempatan itu, Andi mendekatkan 00 Raiser, kini mereka sudah salingberhadapan.

Seperti sudahmenanti kesempatan itu, Andi berteriak, “KENA KAUU.” Lalu menembakkan beammerah dari perut Strike Freedom.

Tapi, 00 Raisersudah berada di belakangya, dia bergerak dengan anggun dan cepat tanpamenggunakan TRANS-ARM. Dengan cepat dia berputar dengan condong ke bawah,menyayat kaki Strike Freedom. Saat posisi mereka saling membelakangi, 00 Raisermenancapkan GN Blade-nya ke torso Strike Freedom.

Strike Freedomyang masih aktif langsung mundur kebelakang, raut muka Rudi geram dan masam.Dia menggigit bibirnya dan berusaha menghindar dari 00 Raiser. Tapi Andi lebihcepat, dia mengambil dua GN Beam Saber dari belakang punggung 00 Raiser. Satudilemparkannya, lalu yang satu lagi dia genggam di tangan kirinya.

Beam Saber yangdilempar tepat mengenai tangan kanannya, dan tidak bisa bergerak lagi.Melakukan akselerasi, dia sudah berada di depannya. Mengayunkan beam saber dariatas kiri, dia menyanyat Strike Freedom dari leher ke perut.

Mata StrikeFreedom Gundam padam, dan dia tidak bergerak lagi. Semura orang terdiam melihataksi 00 Raiser.

“Indah.” Kataitu keluar dari mulut gadis yang barusan dikalahkan. Kini matanya sudah tidakmenunjukkan depresi. Matanya bersinar, kagum melihat battle barusan.



Bersamaandengan suara mesin, sebuah kata pengakhir muncul di tengah arena.

<Battle End>
Winner
00 Raiser
[Blue-sky Ballerina]



<><><> 



Refrensi
Gundam: sebuahfranchise anime buatan Jepang (maaf saya lupa nama pengarangnya), tentang robotyang digerakkan oleh manusia.
Gunpla : lebihdikenal sebagai Gundam Plastik Model, adalah model kit yang dirakit dalampembuatannya.
Plavskypartikel : sebuah partikel yang muncul dalam franchise Gundam Build Fighter(Gundam Build Fighter sendiri adalah cerita milik pemilik hak patennya.)
Strike Freedom: silakan pergi ke laman berikut untuk detail yanglebihgundam.wikia.com/wiki/ZGMF-X20A_Strike_Freedom_Gundam
00 Raiser :silakan pergi ke laman berikut untuk detail yang lebihgundam.wikia.com/wiki/GN-0000%2BGNR-010_00_Raiser