Chapter 1 –
Kedamaian dalam Kebencian
Gelap.
Hal pertama
yang diterima oleh saraf otakku adalah suara rintikkan hujan yang beradu dengan
kaca jendela. Mataku membuka, hanya untuk memastikan kehadiran hal yang paling
kubenci itu. Hujan selalu saja mengingatkanku kepada hari itu, gubuk itu, suara
itu, pria itu. Aku mengalihkan pandanganku ke samping, menatapi gadis yang
sedang membaca buku di bawah penerangan lampu baca. Asma Nadia, tipikal buku
yang selalu dia baca.
“Aisyah, mau
tukeran tempat duduk?”
“Ahmad.”
Aisyah hanya
memandangku. Mungkin dia kaget karena aku sudah bangun atau dia sedang mencoba
mencari arti yang lebih dalam dari perkataanku barusan. Diam, memandang, dan
mendengarkan. Diantara orang-orang yang ku kenal dialah yang paling banyak tahu
mengenai isi hatiku. Karena itu aku yakin. Yang dia tatap bukan hanya mataku
tapi jauh lebih dalam dari itu. Dan dia juga tahu, kata-kata manis bukanlah hal
yang kubutuhkan.
“Mau tukeran
tempat kan?”
“Iya
makasih.”
Aku bertukar
tempat dengannya. Aisyah duduk di samping jendela sementara aku duduk di
samping lorong bis. Aku menatap kaca depan jendela bus yang kami tumpangi,
berusaha melihat tanda-tanda keberadaan
kami.
“Berapa lama
lagi sampai Jogja?”
“Entahlah.
Satu jam? Dua jam?”
Aku berbalik
menatap Aisyah. Dia sudah kembali menyelam ke dalam dunia bukunya. Jika sudah
seperti itu, mungkin hanya Tuhan yang bisa membuatnya berhenti membaca.
Orang-orang
selalu berkata aku beruntung memilikinya. Cantik, pintar, bersahaja, bak putri
raja. Aku pun setuju dengan perkataan mereka. Aku memang beruntung karena
memilikinya, beruntung karena dia akan selalu ada untukku. Meski alasanku
berbeda dengan yang mereka katakan.
Aku menatap
wajahnya. Wajahnya khas keturunan sunda. Meski begitu ada cahaya yang bersembunyi
di dalamnya. Bukan tipikal cahaya yang membuatmu betah memandangnya, tapi
tipikal cahaya yang membuatnya tidak tahan memandanginya terlalu lama. Tipikal
cahaya yang akan membakarmu jika kau terus memandanginya. Karena itu aku tidak
pernah terlalu lama memandanginya. Hanya dosis kecil untuk membuat hariku
sedikit lebih berarti.
“Kenapa? Ada
sesuatu di wajahku ya?”
Dia
memegangi wajahnya, berusaha mencari apapun yang membuatku terus memandanginya.
“Enggak ada
kok.”
“Hem…”
Ada sedikit
jeda sebelum dia kembali ke bukunya.
Aku hanya
terdiam di bangkuku, memandang kosong pemandangan di depanku. Pemandangannya
abu-abu, sungguh tidak menarik bagiku. Terkadang terdengar suara gesekan kertas
di sampingku. Suara yang entah kenapa terdengar seperti musik di telingaku.
Bagai oasis di tengah padang pasir.
“Nanti kita
turun dimana?”
Butuh
sedikit waktu dan jeda untuk memproses pertanyaannya. Aisyah sendiri masih
terpaku dengan bukunya.
“Di Jombor
aja. Dari sana kita naik taksi ke kosanmu.”
Aisyah hanya
diam. Jeda yang dia buat membuatku canggung. Aku memandangnya. Dia menutup
mulutnya dengan buku, berusaha memikirkan sesuatu.
“Aku pulang
sendiri aja.”
Kata-katanya
terdengar seperti ultimatum. Tapi aku sadar, di balik nadanya tersembunyi
kekhwatiran, keperdulian, dan rasa sayangnya kepadaku. Karena itulah aku selalu
bersyukur, bersyukur karena dia bersedia ada di sampingku.
“Maaf. Nanti
kita bareng aja. Lebih nyaman seperti itu.”
Aisyah
adalah wanita yang kuat. Dan kekuatannyalah yang membuatku bertahan. Namun ada kalanya dia terlihat
lemah, tak berdaya, dan seolah menyerahkan segalanya kepadaku. Dan di saat
seperti ini, salah satu kecantikannya terlihat. Dia terlihat, kau tahu, imut.
Kepalanya
bersandar kepada bahuku. Mungkin ia berusaha mencari rasa aman, atau
memberikannya? Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tapi satu hal yang selalu aku
tahu.
Aku selalu
saja bersyukur dia bersedia ada di sisiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar