Minggu, 05 April 2015

Fated to End - Chapter 1



Chapter 1 – Kedamaian dalam Kebencian

Gelap.

Hal pertama yang diterima oleh saraf otakku adalah suara rintikkan hujan yang beradu dengan kaca jendela. Mataku membuka, hanya untuk memastikan kehadiran hal yang paling kubenci itu. Hujan selalu saja mengingatkanku kepada hari itu, gubuk itu, suara itu, pria itu. Aku mengalihkan pandanganku ke samping, menatapi gadis yang sedang membaca buku di bawah penerangan lampu baca. Asma Nadia, tipikal buku yang selalu dia baca.

“Aisyah, mau tukeran tempat duduk?”

“Ahmad.”

Aisyah hanya memandangku. Mungkin dia kaget karena aku sudah bangun atau dia sedang mencoba mencari arti yang lebih dalam dari perkataanku barusan. Diam, memandang, dan mendengarkan. Diantara orang-orang yang ku kenal dialah yang paling banyak tahu mengenai isi hatiku. Karena itu aku yakin. Yang dia tatap bukan hanya mataku tapi jauh lebih dalam dari itu. Dan dia juga tahu, kata-kata manis bukanlah hal yang kubutuhkan.

“Mau tukeran tempat kan?”

“Iya makasih.”

Aku bertukar tempat dengannya. Aisyah duduk di samping jendela sementara aku duduk di samping lorong bis. Aku menatap kaca depan jendela bus yang kami tumpangi, berusaha melihat tanda-tanda keberadaan  kami.

“Berapa lama lagi sampai Jogja?”

“Entahlah. Satu jam? Dua jam?”

Aku berbalik menatap Aisyah. Dia sudah kembali menyelam ke dalam dunia bukunya. Jika sudah seperti itu, mungkin hanya Tuhan yang bisa membuatnya berhenti membaca.

Orang-orang selalu berkata aku beruntung memilikinya. Cantik, pintar, bersahaja, bak putri raja. Aku pun setuju dengan perkataan mereka. Aku memang beruntung karena memilikinya, beruntung karena dia akan selalu ada untukku. Meski alasanku berbeda dengan yang mereka katakan.

Aku menatap wajahnya. Wajahnya khas keturunan sunda. Meski begitu ada cahaya yang bersembunyi di dalamnya. Bukan tipikal cahaya yang membuatmu betah memandangnya, tapi tipikal cahaya yang membuatnya tidak tahan memandanginya terlalu lama. Tipikal cahaya yang akan membakarmu jika kau terus memandanginya. Karena itu aku tidak pernah terlalu lama memandanginya. Hanya dosis kecil untuk membuat hariku sedikit lebih berarti.

“Kenapa? Ada sesuatu di wajahku ya?”

Dia memegangi wajahnya, berusaha mencari apapun yang membuatku terus memandanginya.

“Enggak ada kok.”

“Hem…”

Ada sedikit jeda sebelum dia kembali ke bukunya.

Aku hanya terdiam di bangkuku, memandang kosong pemandangan di depanku. Pemandangannya abu-abu, sungguh tidak menarik bagiku. Terkadang terdengar suara gesekan kertas di sampingku. Suara yang entah kenapa terdengar seperti musik di telingaku. Bagai oasis di tengah padang pasir.

“Nanti kita turun dimana?”

Butuh sedikit waktu dan jeda untuk memproses pertanyaannya. Aisyah sendiri masih terpaku dengan bukunya.

“Di Jombor aja. Dari sana kita naik taksi ke kosanmu.”

Aisyah hanya diam. Jeda yang dia buat membuatku canggung. Aku memandangnya. Dia menutup mulutnya dengan buku, berusaha memikirkan sesuatu.

“Aku pulang sendiri aja.”

Kata-katanya terdengar seperti ultimatum. Tapi aku sadar, di balik nadanya tersembunyi kekhwatiran, keperdulian, dan rasa sayangnya kepadaku. Karena itulah aku selalu bersyukur, bersyukur karena dia bersedia ada di sampingku.

“Maaf. Nanti kita bareng aja. Lebih nyaman seperti itu.”

Aisyah adalah wanita yang kuat. Dan kekuatannyalah yang membuatku  bertahan. Namun ada kalanya dia terlihat lemah, tak berdaya, dan seolah menyerahkan segalanya kepadaku. Dan di saat seperti ini, salah satu kecantikannya terlihat. Dia terlihat, kau tahu, imut.

Kepalanya bersandar kepada bahuku. Mungkin ia berusaha mencari rasa aman, atau memberikannya? Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tapi satu hal yang selalu aku tahu.

Aku selalu saja bersyukur dia bersedia ada di sisiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar