Kamis, 28 September 2017

Esai Tentang Hidup: Cinta, Sebuah Ilusi yang Nyata



Huruf pertama dari nama wanita itu adalah F. Dan saat ini aku yakin bahwa dia adalah wanita yang aku cinta dan layak untuk dijadikan istri. Terlepas dari apakah aku pantas dijadikan suami baginya. Dan aku ingin sedikit berpendapat tentang cinta.

Aku pernah berkata kepada F, “Aku tidak percaya dengan cinta.” Setelah itu percakapan kami dialihkan ke topik lain. Sebenernya, jika sempat aku ingin menggombali dia dengan menyambungnya dengan, “sebelum aku berjumpa denganmu”. Tapi sungguh, aku memang tidak percaya dengan cinta. Atau setidaknya, aku tidak mengerti apa kodrat sesungguhnya cinta. Dan mungkin juga tidak akan pernah.

Tapi aku paham sedikit, secuil, atau malah sezarah. Dan dalam blog yang tak berguna ini, saya ingin mengutarakan sedikit, pemahamanku yang bodoh mengenai cinta.

Cinta adalah kerinduan. Sebenarnya, arti cinta yang paling pertama saya yakini adalah posisinya sebagai sebuah kerinduan. Ini mungkin agak sedikit bodoh, karena pada logika dasarnya rindu ada setelah cinta. Ini benar, jika anda tidak percaya kepada teori penciptaan Adam. Walau sebenarnya teori itu sendiri, mungkin, hanya karangan saya.

Adam diciptakan sendiri. Dan sayangnya, dia diciptakan lemah. Kelemahan adam sesungguhnya hanyalah satu. Dia gak kuat sendiri, gak kuat kesepian. Maka dari adam, diciptakanlah Hawa. Ibunda semua umat manusia selama ini. Sebelumnya adalah sedikit fakta dari kitab suci, dan apa yang ada setelah ini hanyalah teori belaka. Adam dan Hawa awalnya adalah satu jiwa. Namun, dalam proses penciptaan ketika pengambilan tulang rusuk itu terjadi, jiwa Adam dibelah menjadi dua. Belahan Jiwanya adalah Hawa. Jika teori ini benar, maka pantaslah jika para pujangga menggunakan istilah belahan jiwa untuk kekasih.

Berangkat dari pendapat saya mengenai hal itu, saya beranggapan bahwa dalam penciptaan manusia. Kita diciptakan sempurna, atau mungkin lengkap adalah kata yang lebih baik. Namun karena kelemahan kita, Tuhan sengaja menjadikan jiwa kita yang lengkap itu menjadi dua, dua tubuh yang saling melengkapi, dua jiwa yang saling mencari. Sayangnya, dalam setiap eksperimen yang ada, standar error pasti ada. Kampretnya, di dunia ini anda bisa saja tidak bertemu dengan belahan jiwa anda, dan sayangnya, jika itu terjadi. Seluruhnya adalah kesalahan manusia. Tapi marilah kita tidak berbicara mengenai hal itu. Karena itu adalah urusan dunia yang tidak terlihat, dan kita hanyalah pengamat dunia terlihat. Untuk saat ini, marilah kita bersenang-senang dengan masalah fana kita di dunia terlihat.

Dia yang Maha Merindu. Tuhan adalah yang Maha Sempurna. Dan dalam kesempurnaanNya, terkadang saya merasa Dia yang paling nestapa. Tuhan tidak butuh siapapun, tapi nyatanya dia tetap mencipta. Mbah Ainun sering bilang, Tuhan dulu menciptakan Nur a.k.a. Muhammad S.A.W. dalam bentuk Rukh hanya agar dia punya teman ngobrol, kalau ingatan saya dan video di youtube itu benar. Maka saya agak sedikit berani bilang, Tuhan juga bisa kesepian. Dan dalam kesepianNya, Dia ciptakan jutaan jiwa dari dirinya sendiri khusus untuk sedikit mengurangi Rasa Kesepiannya, yang entah ada, tidak ada, atau hanya khayalan saya saja.

Soal Tuhan, Teman dan kakak tingkat saya pernah bertanya, “kenapa kita disuruh shalat, seolah-olah Tuhan pengen banget kita sembah.” Para ustad-ustad pasti bakal memberikan beragam tanggapan. Beberapa diantaranya mungkin, Shalat itu untuk menjaga diri, mencari pahala, dan lain sebagainya. Saat itu, saya yang masih bodoh, hanya bisa berkata kepada teman dan kakak tingkat saya itu. “Shalat itu diperintahkan karena Tuhan kangen sama kamu mas.”

Shalat yang pertama kali diperintahkan adalah berjumlah 50, lalu dikurangi hingga berjumlah 5 seperti yang sekarang ini. Tuhan ingin berjumpa dengan kita, face to face, eye to eye, empat mata dalam 50 waktu. Tapi kita hanya menyanggupinya 5 waktu. Dan Tuhan memakluminya. Dan ini hanyalah pandangan saya tentang cinta Tuhan, mohon jangan disamakan atau disetarakan dengan pandangan siapapun, karena pasti kalah.

Hingga kini, saya pada akhirnya hanya percaya kepada dua “cinta”. Cinta kepada Jodoh, dan Cinta kepada Tuhan. Namun, cinta itu sendiri memiliki seribu dimensi. Dan apa yang baru saja kalian baca hanyalah satu dari seribu dimensi itu. Dan mungkin, ia adalah dimensi yang paling sepele. Tapi saya rasa, saya bisa yakin, kalau cinta yang tulus adalah kekuatan yang paling tinggi di dunia ini. Karena, pada akhirnya, kamu dan aku saat ini ada hanya karena cinta dari Dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar