Sabtu, 21 September 2013

Cerpen Awam [Buku]


“Eh Dini, menurutmu cowok yang paling keren itu cowok yang kaya’ apa ?”
Sebuah pertanyaan di lontarkan untukku, sang penanyanya adalah Anisah. Saat ini aku, anisah dan rafika sedang duduk santai menghantui sebuah pohon di dekat kelasku. Anisah menatapku tajam, meminta jawabanku segera.

“Cowok yang kayak apa ya, emm, mungkin cowok yang biasa-biasa aja.” Aku menjawab sekenanya saja tanpa pikir panjang.

“Dini memang anak baik, jadi kalau cari cowok pasti anak baik ya. Kalau aku mah cari cowok yang jago naik motor, biar ngebut kaya’ Rossi gituh.”  Anisah menjawab dengan antusias dan senyum manis dari bibirnya.

“Kalau aku, mungkin cowok yang Gothic.” Rafika tiba-tiba menyela dengan nada Sadako andalannya. Aku sempat merinding mendengar dia bicara.

“i..i..ya ka” aku berusaha menanggapi Rafika dengan santai, namun bibirku tidak mendengarkanku. Itu adalah satu dari tiga puluh tehnik menakuti miliknya..

“he…he…he….” Rafika memberikan tawa kecilnya kepada kami lalu kembali asik ke buku yang di tangannya.

Aku memerhatikan buku ditangan Rafika, “Gothic di Masa Kini” buku itu sangat sering dia bawa. Sempat terpikir olehku untuk bertanya kepadanya mengapa dia tertarik dengan hal unik seperti itu, namun aku selalu mundur setiap kali hal itu terpikir olehku. Aku perhatikandengan seksama sosok Rafika yang sedang asyik dengan bukunya, perlahan bayangannya mengingatkanku pada bayangan seorang cowok yang asyik dengan bukunya.

“Buku” Tanpa sadar aku mengucapkannya dari mulutku.

“Kenapa Din ?” Anisah melemparkan pandangan herannya kepadaku. Aku menatap Anisah, sesaat tadi aku yakin mengeluarkan suara berfrekuensi dekat infrasonik. Namun sepertinya Anisah memiliki telinga dengan frekuensi mendekati suara infrasonik itu.

“Eh, enggak, cuman kepikiran aja, cowok yang hobi baca mungkin keren kali ya.” Aku berkata sekenanya saja.

“Cie,Dini suka sama kutu buku. Siapa Din ? Anak Literatur ya?” Anisah sengaja berkata seperti itu karena anak literatur termasuk yang kurang terkenal di sekolah.

“Nisah, jangan asal ngomong dong.” Aku menarik keras tangan Nisah.

“Dini, ya Alloh, sakit tau” Anisah meringis meneriaki ku.
--Teng Tong--

“Biarin, siapa suruh juga ngomong asal. Udah yuk masuk, tuh pak Aldo udah jalan ke kelas”  Kami bertiga berjalan sedikit berlari ke kelas.

---TAT---

Peperangan ketiga kami  dimulai lagi dengan matematika dari pak Aldo. Beliau menerangkannya dengan sangat baik, diselengi dengan humor jadi membuat kami dapat mencernanya dengan baik. Atau, seperti itu lah seharusnya, entah kenapa sejak tadi aku sama sekali tidak bisa memusatkan perhatianku kepadanya. Bayangan seorang cowok menganggu belajarku.

Aku sudah kelas dua belas sekarang, sudah tidak seharusnya lagi memikirkan yang seperti itu, belajar, un, kuliah, itu seharusnya menjadi skala prioritas ku sekarang, aku yakin dan percaya itu. Tapi, walau begitu tetap saja aku tidak bisa menjiwai hal itu.

“Din,  kok kamu bengong terus dari tadi ?” Avi temen sebangku ku mengagetkanku.

“Eh enggak vi, eh Pak Aldo mana ? Sudah habis ya jam pelajarannya ? Eh tunggu, anak yang lain pada kemana ?” Aku terbelalak ketika menyadari kenyataan kami tinggal berdua dikelas.

“Sekarang istirahat Sholat, udah yuk dari pada kamu bengong gak jelas, ke mushola aja yuk !”  begitu ajaknya yang memang anak mushola, (banyak yang ngomong) sih Akhwat. Tapi meskipun akhwat dia tidak membedakan dengan siapa di bergaul. Bahkan dengan aku yang masih belum berhijab.

“Ya udah deh, dari pada pusing begini.” Dengan begitu aku mengiyakan ajakan Avi ke mushola.

---TAT---

Aku bertemu lagi dengannya dijalan pulang, wajah tak acuh pada sekitarnya, perhatian penuh hanya dia tujukan pada buku di hadapannya. Dia membaca di sebuah gardu sepi di sebrang jalan, aku tidak tahu dia dari sma mana, tapi aku rasa dia sepantaran denganku.

Sejenak aku merasa dia melihat ke arahku, mata kami saling bertemu. “sial” dalam hati aku berteriak. Aku tundukan wajahku dan mulai berjalan pelan menghindarinya.

“Eh kamu yang kemarin ngeliatin buku ku kan ?” Sebuah suara mengejutkan ku dari belakang.

“Eh, buku ? I..i..i..ya emang kenapa ?” ‘Sial.’ Aku berteriak dalam hati, nadaku bicaraku tidak normal, dan mukaku memanas, aku harap dia tidak menyadarinya.

“Ya udah, nih ambil bukunya. Aku sudah terlalu sering baca buku ini jadi bosen.” Dia mengambil sebuah buku yang kemarin kulihat dari dalam tas dan menyerahkannya kepadaku.

“Eh, gak usah !” Aku menolak pemberiannya dan mendorong tangannya.

“Simpan aja, siapa tau bisa bantu kamu dimasa depan. Kalau gitu, aku duluan ya.” Dia tanpa berkata  lagi langsung pergi berlari meninggalkanku terpatung sendiri. ‘Aku belum tanya namanya.’ Pikirku dalam hati.

---TAT---

Satu bulan telah berlalu sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Kami sudah jadi cukup deka, meskipun anehnya setiap kali kami bertemu dia tidak pernah menanyakan nama ataupun nomor ponselku, selain itu anehnya kami tidak pernah berbicara lebih dari 2 menit. Aku sendiri heran kenapa dia bisa begitu.

-TEEETT-

Bel panjang akhir sekolah sudah berbunyi, aku segera meraphikan tasku. Hari ini aku, rafika, avi, dan beberapa teman lain akan kerja kelompok biologi di rumahku.

---TAT---

“Din, rumahmu masih jauh ya ?” Rafika bertanya dengan sedikit mengeluh padaku.

“Sabar ka, sebentar lagi kok.”  Aku mencoba menenangkannya sedikit.

“Oooh, kalau cowok yang kamu suka itu mana din ?” Rafika menanyakan si pembaca buku itu.

“Hehe, ada deh ka.” Aku menjawab sekenanya saja.

“Oh itu ya.” Rafika menunjuk seorang cowok tak acuh dengan buku di tangannya.

“Hai cowok pembaca buku.” Rafika mencoba memanggil dia dengan keras, meskipunn aku yakin kebanyakan orang akan berlari mendengar teriakannya, tapi dia melihat dan berjalan ke arah kami.

“Hai, temannya dini ya. Halo ukhti Avi.” Dia memanggil ku, aku tidak tahu sejak kapan dia tahu namaku. Eh tunggu dulu dia juga manggil Avi.

“Halo akhi Dino, sudah terakhir kali sejak kita bertemu ya. Kalau enggak salah sejak ukhuwah di sma mu ya.” Avi berbicara santai dengannya.

“Iya, terimakasih ya bantuannya saat itu.” Mereka berdua ngobrol dengan santai, tanpa beban layaknya teman lama.

“Kalian sudah kenal sejak lama ya ?’ Aku berusaha melepaskan keingin tahuan ku.

“Begitulah din, kami berteman sejak smp. Sekarang pun kadang kami bertemu karena sesame aktivis. Dia mantan ketua rohis di SMA 2 loh.” Avi menjelaskannya panjang lebar kepadaku. Aku melihatnya, dia masih sibuuk berbicara dengan cowok yang aku yakin bernama Dino.

“Sudah yuk ni, kita ke rumahmu biar cepet selesai tugasnya.” Avi mengajakku pergi lagi, teman cowok kami juga telihat sudah tidak sabaran.

“Haha, iya ayok. Sampai nanti lagi ya no.” lalu aku mulai berjalan ke rumah, langkah pertamaku berat, langkah kedua aku merasa sesuatu menimpa tubuh ku, langkah ketiga aku tidak bisa menahan berat badanku sendiri.

---TAT---

Begitu sadar aku sudah terbaring di kamar. Aku melihat tanganku, jamku sudah di lepaskan. Badanku masih berbau keringat namun tidak terlalu kental,bajuku juga sudah diganti. ‘Makasih bu’ aku menyuarakan rasa terimakasihku.

Aku mencoba mengangkat badanku, langit sudah Nampak hitam diluar jendela. Dari luar akudapat mencium bau nasi goreng yang sedanng di masak.’Mungkin ayah sudah pulang’ pikirku lagi.

Aku menggapai telepon genggamku di meja. Banyak sekali sms dari temanku, mereka semua menghawatirkan keadaanku. Yah, mereka gak tau keadaanku sih, aku jarang menunjukan sisiku yang lemah di depan teman yang lain, cukup Dini yang kuat dan riang saja yang mereka ketahui.

Aku terus mebaca sms dari teman-temanku, lalu aku melihat sms dari Avi.

“Din, maaf ya aku tadi ngasih nomor kamu ke Akhi Dino maaf ya gak ngomong dulu. Dia maksa soalnya.” Jadi Dino namanya, kenapa diam saja padahal selama ini dia tau namaku.

Drrrrttt----
Ponsel ku bergetar tanda sebuah sms masuk.

“Hai din, ini ane Dino, katanya kamu sering down ya kalau lagi gak tenang ? Untung deh aku ada buku yang cocok untuk itu. Barusan aku kasih ke ibumu. Di baca ya kalau sempet !” Danbegitu sms nya berakhir.

Aku membaca ulang kata-kata di akhir sms.’barusan aku kasih ibu’. Berarti dia barusan kesini dong, aku segerar belari menuju jendela kamarku yang menghadap ke jalanan, kamarku berada di lantai dua jadi aku bisa melihat dengan jelas halamanku. Di kejauhan aku bisa melihat bayangan putih menjauh. Buat apa dia repot-repot datang kesini cuman buat ngasih buku.

TOK TOK, teerdengat suara ketokan pintu dari luar kamar. Ibu membawa buku yang di bawa Dino kayanya.
“Din, kamu sudah bangun belum. ?” Ibuku memastikan kondisiku, aku rasa kalau aku diam saja ibu pasti langsung masuk kedalam kamar. Aku memutuskan untuk bangun dan membukakan pintu. Aku tidak mau terlihat lemah.

“Udah kok bu.” Aku menjawab seraya membuka pintu.

“Buku dari dino ya, makasih ya bu. Maaf tapi aku mau istirahat, boleh kan bu.” Aku menjawab mencoba untuk tidak menyakiti hati ibuku.

“Ya sudah kamu juga keliatannya sudah agak tenang, ini bukunya. Di bungkus rapih loh sama dia.” Ibu memberikan bingkisan coklat dan godaan kepadaku. Aku mengambilnya dengan senyumanku yang terbaik.

“Tapi ibu sangat kagum dengan perhatian anak itu. Dia kelihatan yang paling khawatir saat kamu pingsan tadi. Juga, malam-malam begini dating mengantarkan buku, ibu harap dia tidak apa-apa saat pulang.” Ibu berkata menyatakan kekhawatirannya.

“Sudahlah bu, dia kan bukan anak-anak.” Aku menjawab mencoba sedikit menenangkan ibu.

“Ya sudah, aku bacanya bukunya dulu ya bu.” Aku mengambil bingkisan coklat dari ibu dan menutup malam. Di luar aku mendengar sedikit keluhannya dan juga ‘selamat malam’ dan ‘tidur yang nyenyak’-nya.

‘Buku ini adalah obat terbaik buat siapa saja yang sedang susah dan tidak tenang hatinya. Di baca sampai tuntas ya. !’ Begitulah tulisan yang ada di bungkusan coklat itu. Iya, hati yang tidak tenang, begitulah aku. Aku tidak mengerti semenjak kapan aku menjadi seperti ini, tapi ini lah kenyataannya.

Badanku tidak begitu lemah, aku masih sanggup berdiri upacara di pagi har. Namun, stress yang terlalu berat bisa membuat ku pingsan. Karena itu aku selalu ceria di manapun, agar aku tidak mudah collapse di depan temanku.

Aku menggapai telepon genggam di mejaku, jemariku mulai berlarian mengetikkan tanda terimakasih, permintaan maaf, kekhawatiran, dan beberapa macam hal yang tidak penting sehingga tanpa sadar aku mengetik sms yang sangat panjang, cukup kalau di jadikan cerpen aku rasa. Segera aku pencet tombol hijau di ponsel ku.

Aku mempethatikan layarnya, setelah yakin kalau sms nya sudah terkirim aku meletakkan kembali ponsel-ku di meja. Perlahan aku amati langit malam, bintang terlihat cerah di sana, aku memberikan senyum terbaikku kepada mereka. Aku yakin mereka pun tersenyum padaku.

Kembali ku amati ponsel ku di atas meja, ku ambil dan ku tatapi layarnya. Masih belum ada sms masuk darinya, mungkin dia sedang sibuk. Aku rebahkan badanku di kasur berharap bisa mengusir sedikit saja kegundahanku.

Namanya Dino, nama lengkapnya aku belum tah, sekolah di SMA 2, rangkingnya terbaik di sekolahnya, mungkin terbaik di provinsi, aku rasa dia sepantaran dengan aku, masih aktif sebagai aktivis dan mantan ketua rohis.

‘Mantan ketua rohis’ sebuah jabatan yang sangat berat untuk di sandang. Sejauh yang aku lihat mantan ketua rohis menjadi idola banyak cewek di SMA. Seorang ketua rohis pasti memiliki agama yang bebeda di level yang berbeda dengan kebanyakan orang. Meskipun begitu mereka tidak mencari pacar, karena memang seperti itulah islam yang selalu di junjung oleh mereka.

Aku memiringkan badanku ke kanan dan tanpa terasa pipiku hangat oleh air mataku. Di saat itulah aku mendegar nada yang selalu aku dengar, tapi aku tidak tahu kalau nada ini bisa se indah ini.

Segeraku bangkitkan badanku dan menggapai ponsel di meja.

‘:D Bukunya sudah di baca belum ?’. Hanya dengan itu dia membalas sms ku, hanya dengan itu dia menjawab terima kasihku, hanya dengan itu dia mencoba menenangkan rasa khawatirku, hanya dengan itu dia menjawab rasa bersalah ku, hanya dengan itu dia membalas sms ku. Aku terpaku menatap layar ponsel. Ada sedikit rasa kecewa dari dalam diriku, tapi rasa penasaran ku bertambah haus.

Aku segera membalas sms dia dengan perasaan gugup, di bales gak ya sms ku. Aku merebahkan badan berharap bisa menangkan perasaan menyesakkan di dada. Meskipun aku yakin hal itu tidak bisa, aku memerhatikan ponsel dengan perasaan gugup, berharap sms ku cepat di balas oleh dia.

10 menit, masih belum ada balasan. Aku melihat jam, jam tepat menunjukan pukul Sembilan malam. ‘mungkin dia lagi belajar’, begitu pikirku dalam hati. Aku mengubur ponsel ku di dalam tumpukan bantal. Kepalaku ku hantamkan ke hadapan kasur,aku menenggelamkan wajah dan perasaan kecewaku. Perlahan aku meninggalkan dunia nyata dan pergi ke dunia mimpi.

Kriiingggg, teriakan jam weker membangunkanku, rasa dingin khas pagi hari menyelimuti badanku. Aku melihat jam di dinding, jam empat lewat tiga puluh menit. Tanpa sadar aku mengambil telepon genggam di bawah bantal. ‘Masih belum ada balasan’ pikirku sambil melihat layar ponsel.

Aku bangun dari kasur berjalan menuju ke kamar mandi. Berharap bisa mengusir kekecewaan yang ada di hatiku.

---TAT---

Sudah tiga minggu lewat semenjak kejadian pingsanku, aku dan Dino sudah agak menjauh. Dia sama sekali tidak pernahbisa mendapat percakapan layaknya kebanyakan cewek dan cowok lainnya. Aku mengerti hal itu, bagaimanapun dia adalah seorang akhi yang harus bisa menjaga dirinya dari cewek kebanyakan.

Meskipun dia jarang membalas sms ku, dia tetap saja sering menanyakan buku yang dia berikan lewat sms. Kata ‘bukunya sudah di baca belum’ atau ‘gimana bukunya bagus kan’, pasti seperti itu yang dia tulis. Berkali-kali mendapat sms yang sama aku mulai berhenti berharap ditanggapi olehnya, awalnya aku menyegel ponsel ku di dalam tasku. Namun, karena takut ada sms penting dari temanku aku mengganti nomor ponsel ku dengan yang baru. Kartu sim nomor yang lama aku simpan dalam tas. Nomor ponsel baru ku kusebarkan ke semua teman-temanku. Kecuali Avi, karena ku yakin jika aku beri tahu dia pasti bakalan dikasih ke dino lagi.

---TAT---

“Din, kemarin kamu kenapa gak ikut nganterin Akhi Dino ke Bandara ?” Teguran Avi membangunkan lamunanku. Aku tidak mengerti satu kata pun yang di ucapkan Avi..

“Ke Bandara, emang dia mau kemana ?” Aku bertanya dengan getaran dalam nadaku.

“Ke Inggris, kamu gak tau tah ? Aku kan sudah sms kamu dari kemaren-kemaren.” Avi bertanya meragukan ketidak tahuanku. “Yah, kamu gak bales sih, mungkin lagi low bat ya ?” ‘Kemarin-kemarin, mungkin setelah aku mengganti nomor’ pikirku dalam hati menjelaskan perkataan Avi.

“Emang dia di Inggris mau ngapain, kuliah ya ?” Aku bertanya dengan nada bosan. Orang seperti dia memang pantas kuliah di Inggris.

“Wih, enak ya kalau dia memang kuliah. Tapi sayangnya dia sekarang lagi menjalankan terapi di sana.” Avi berkata dengan mata berkaca, aku menatapnya dengan takut, punggungku terasa berat seperti ada beban yang tertimpa disana. Pikiranku mulai buram setelah mendengar satu kata “TERAPI”.

“Sejak kecil dia mengidap penyakit keras, aku kurang tau nama penyakit atau gejalanya, dia tidak pernah  membiarkan orang lain mengetahui hal itu. Waktunya tinggal satu bulan lagi.” Avi berkata dengan penuh isak.

“Tadinya dia sudah mau menyerah, dia bilang bahwa hal yang dia inginkan sudah terpenuhi. Tapi tidak setelah bertemu denganmu. ‘Terimakasih, kau memberiku harapan’ dia ingin agar aku menyampaikan itu padamu.” Air mata bercucuran dari kedua bola mata Avi. Aku pun ikut terbawa suasana yang dia bawa.

Penyakit keras, waktunya tinggal satu bulan, sudah mau menyerah, terapi, kau memberiku harapan. ‘Jangan bodoh, lihat siapa yang berbicara, kau yang memberiku harapan, kau yang memberiku rasa, kau yang aku rasakan, dan kau berkata bahwa aku yang member mu harapan? Jangan bicara sok keren itu layaknya karakter utama dalam sebuah novel. Kalau ada yang ingin kau sampaikan, sampaikan secara langsung’ aku berteriak dan mengumpat dalam hati.

Aku mengangkat badanku sekuat tenaga, kakiku bergetar tak kuat menahan berat badanku. Bukan berarti badanku bertambah berat secara tiba-tiba sehingga kakiku tidak bisa menahannya. Namun kakiku yang kehilangan kekuatannya untuk menopang tubuhku.

“Aku ke toilet dulu.” Dengan kasar aku berkata kepada Avi, aku sanding tasku di bahu. Dengan kasar aku langkahkan kaki keluar kelas. Samar-samar di kejauhan terdengar dua suara tidak asing di telingaku. Yang pertama suara bel tiga kali tanda masuk kelas, dan yang kedua adalah suara isak tangis seseorang dari belakangku. Suara bel sekolah harusnya lebih keras dari suara isak tangis itu, namun suara isakan tangis itu lebih terdengar bagiku, seolah mengajakku bergabung dengannya dalam suatu konser ballad.

---TAT---

Tanganku bergetar membuka pintu kamar mandi, perlahan aku masuk ke dalam. Ruangan di dalamnya agak gelap, memberikan perasaan tidak enak padaku. Aku merogoh ponsel ku di dalam kantong, cahaya lampu layarnya sajalah yang sekarang menjadi lampu bagiku.

Aku membuka resleting ransel ku, ku obrak-abrik semua barangku disana,  aku mencari kartu kecil jiwa ponselku, kartu yang tadinya aku segel kini aku cari sepenuh hati. Setelah mengeluarkan semua sarapan tasku, aku menemukan sebuah kepingingan kecil di pojok tas. Tergesa aku meraih ponsel di saku celanaku. Segera ku lepas baterai dan ku pasang kartu kecil di tanganku.

Perlahan cahaya mulai keluar dari ponselku, aku terdiam memaku menghadap ponselku.

Din, apa kabarmu, jarang bales sms ku lagi sakit ya? Semoga cepat sembuh ya!

Din, lagi apa, bukunya sudah dibaca belum. Emm, jangan2x kamu jengkel ya aku ngomong soal buku terus? Maaf ya, aku terlalu egois.

Din, Akhi Dino lusa mau ke Inggris, kamu ikut nganterin ya!

Din, insyaAlloh lusa aku mau ke Inggris buat berobat, doa in aku ya.

Din, ada yang mau aku omongin sama kamu di bandara. Tolong usahakan dating ya.

Din, pagi, pesawatnya terbang jam 9 pagi, hari ini kan hari libur, jadi sempetin dating ya. Ada yang mau aku omongin juga, jadi dating ya, aku tunggu.

Din, udah dimana ?

Din, udah dimana ?

Din, udah dimana ?

Din, udah dimana ?

Din, udah dimana ?

Din, udah dimana ?

Din, udah dimana ?

Din, udah dimana ?

Din, udah dimana ?

Din, udah dimana ?

Din, sampai jumpa suatu saat nanti, aku yakin kita bisa bertemu, bahkan jika keyakinan itu palsu aku akan mengusahakannya tidak akanmati. Makasih sudah ngasih aku alasan untuk hidup. Sampai jumpa lain waktu.

Waktu adalah suatu perjalan, dia akan terus maju dan tidak bisa mundur. Jika waktu bisa secara egois dibalik, mungkin aka nada banyak orang yang bahagia saat ini, mungkin ada banyak orang yang sengsara saat ini, mungkin juga ada orang yang sudah meninggalkanku saat ini. Aku yang mengerti hal itu hanya bisa menatap layar ponsel ku dan terpaku. Membiarkan kesadaranku semakin menjauh.

---TAT---

Aku berdiri di tengah sebuah ruangan luas, di timurku terpampang sebuah pintu besar dari kaca dilihat dari bentuknya itu adalah pintu yang bisa bergeser sendiri jika ada orang di depannya. Di barat terpampang lorong besar panjang. Di selatan berjejer kursi-kursi yang bergandengan satu sama lain, mereka berkumpul berlima. Di utara terpajang sebuah papan besar yang memamerkan berbagai macam nama Negara dan  ibu kota. Aku terdiam dan menundukan kepala, sesaat aku sadar bahwa tidak ada orang selain aku disini.

“Din, Dini?” Aku menengokkan kepala, memandang seseorang yang memanggil namaku. Seseorang berdiri terdiam memandangi ku disana, ada sejenis perasaan kangen saat aku melihat wajahnya, ada gelora yang mencekam di dadaku. Dino.

“DINO.” Aku berlari menerjang sosok pria sebaya di hadapanku. Dia memajukan tangannya, menahannya di depan.

“Stop, kamu mau ngapain din?” Dia menghentikan terjanganku.

“Aku kangen sama kamu, maaf kemaren aku gak ikut nganterin kamu. Kamu gak marah kan sama aku?” Aku menyerbu dia dengan pernyataanku.

Dia hanya tersenyum mendengar perkataanku. “Makasih ya Din, kemarin kamu gak dateng.” Dia dengan santai mengeluarkan kata itu dari mulutnya. Aku hanya bisa terdiam mematung, menatapnya, menagih sebuah penjelasan darinya.

Dia tersenyum, menghiraukan perasaanku, bertindak seolah dia tau yang terbaik.

“Bodoh.” Cuman itu yang bisa kukakatakan, hanya itu satu-satunya kata yang bisa menjelaskan dengan baik apa yang akan kukatakan.

 “Aku menyesal, sangat menyesal, tidak bisa berada di dekatmu, tidak bisa mendukungmu. AKU MENYESAL TIDAK DENGANMU SAAT KAU AKAN PERGI!” Perlahan air mata mulai membasahi pipiku.

“Aku ingin lebih dekat denganmu, aku ingin bisa mendukungmu, aku ingin bisa mengobati lukamu. Tapi aku tidak berdaya, aku tidak punya apa-apa, aku tidak kuat, aku tidak pintar, tidak pantas berada di dekatmu.” Aku meneriakinya dengan isakan.

Aku menatapnya tajam, jauh kedalam matanya, perlahan aku merasakan jantung ku berlari, detaknya begitu cepat, begitu keras di telingaku. Aku mendengar jantungku berdetak, berlomba, dengan suara lainnya. Perlahan aku menyadari, jantung miliknya juga berdetak secepat jantungku. Bergegas berlomba dengan detakku, terasa bagaikan setiap detik begitu penting bagi mereka hingga tidak ada satupun yang mau mengalah. Hingga perlahan detak kami menenangkan dirinya, perlahan hingga semua terasa wajar, perlahan hingga mereka berjalan bersama. Aku menatap wajahnya, dia tersenyum dalam diam, menemaniku mendengarkan orkesta hati kami.

“Aku juga, merasaa begitu.” Perlahan dia mulai berbicara.

“Sejak pertama kali bertemu denganmu, eh bukan, bukan yang pertama deng, yang ke-satu,dua,tiga yang ke-lima kalinya kau bertemu denganmu aku mulai menyukaimu. Alasannya apa, aku juga gak ngerti, ketika sadar aku sudah menyukaimu begitu saja.

Aku mulai ragu, haruskah ku utarakan perasaan ini, ataukah aku pendam dalam hati. Kau tau, keluargaku adalah keluarga yang sangat keras. Sejak kecil aku selalu diajari ayah kalau pacaran itu salah, lebih tepatnya sih sejak smp, yah meskipun dia sama sekali tidak melarangku untuk suka sama cewek.

Dia selalu berkata padaku, “Pacaran adalah bentuk tidak bertanggung jawab terhadap cinta, suatu saat kau pasti putus. Karena itu hindari pacaran sebisa mu, jika kau memang mencintai seseorang, jadilah kuat, dan lindungi dia.” Kata-kata itu sampai saat ini masih tertanam dalam di hatiku.” Dino berkata dengan tatapan nostalgia di wajahnya.

“Semenjak kamu sudah mulai jarang berbicara denganku aku mulai ragu, ragu apakah aku harus diam saja atau bergerak mengungangkapkan rasa ini padamu. Dan saat itu aku memutuskan, aku akan mengutarakan semuanya saat aku akan pergi.

Di hari keberengkatan, aku menunggumu sambil berharap kau akan datang, melalu pintu itu, menghampiriku.” Dino menunjuk sebuah pintu geser otomatis di sebelah kiriku.

“Aku menunggu dan menunggu, berharap kau akan datang, meskipun entah di mana di dalam hatiku aku sadar, kau tak akan datang.” Aku menatap wajah sedihnya dalam.

“Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu.” Aku tertunduk menyesali apa yang telah ku lakukan.

“Jangan minta maaf, kan sudah aku bilang di awal. Terima kasih karena kemaren tidak datang.” Aku membangkitkan kepalaku, dia menatapku dengan penuh keyakinan.

“Ketika kamu tidak datang aku sadar, sekarang masih bukan waktunya, aku masih belum kuat. Aku masih belum bisa melindungimu. Karena itu aku pergi, agar aku bisa berpisah dari penyakit ini, bertambah kuat, dan melindungimu.” Perlahan kutatapi figurnya, sosoknya terlihat begitu kuat di mataku, namun perlahan aku sadari. Dia juga begitu ringkih, selama ini bertarung dengan penyakitnya.

“Kalau begitu aku akan menunggu.” Aku mencoba menatap wajahnya dengan keyakinan.

“Aku juga akan bertambah kuat dan menunggumu, menunggu sampai kita bisa bertemu lagi.” Aku menatap wajahnya, menatapnya dalam dan mencoba untuk menyemangatinya. Aku sudah memutuskan, aku akan bertambah kuat, sekuat mungkin sampai aku sejajar dengannya.

“Iya.” Dia memberikan jawaban terakhir dengan sepenuh hati.

Aku memandangi sekitar, mencoba menghindari tatapannya. Aku tidak ingin dia tahu kalau mukaku sudah bertambah merah. Aku mengamati sekitarku, perlahan aku menyadari, pintu, lorong, jendela, papan, dan berbagai macam benda di sekitarku mulai menghilan dan telah berubah menjadi bukan apa-apa. Aku hanya memandangi kejadian ini dengan tenang, seolah sesuatu di dalam ku mengatakan bahwa ini adalah hal yang wajar.

“Ngomong-ngomong sekarang kita lagi dimana ?” Aku menanyakan hal yang tidak perlu aku tanyakan, karena bagaimanapun juga aku tahu jawabannya. Kalau ini di dalam mimpi.

“Aku rasa ini di mimpi.” Dia memberikan jawaban sesuai dugaanku.

“Kalau memang ini mimpi, berarti kita gak bakal ingat yang kita katakan hari ini.” Aku mencoba memastikan satu hal lagi dengannya.

“Tentu aja dong, karena itu aku gak masalah ngomongin perasaanku denganmu disini.”

“Daasar, itu artinya kamu gak bakal perduli kalau aku gak suka lagi sama kamu?”

“Jangan khawatir, meskipun kita gak bakal ingat dengan apa yang ada di dunia mimpi. Tapi aku akan selalu ingat denganmu dan perasaanmu.” Dino mengucapkan selamat tinggalnya denganku. Perlahan-lahan figur badannya mulai menghilang.

“Kalau memang begitu, pertemuan kita selanjutnya setelah kita bertambah kuat.” Aku mengucapkan kata perpisahan ku kepadanya. Perlahan-lahan kakiku menghilang, meskipun anehnya aku masih merasa mengingjak sesuatu.

“Buku ku jangan lupa di baca.” Kepala nya mengucapkan permintaan terakhirnya kepadaku.

---TAT---

Aku menatapi plafon putih yang ada dihadapanku, lima menit sudah aku berhadapan dengannya saat ini. Mencoba mengumpulkan kekuatan dari dalam diriku, perlahan kubangkitkan tubuhku. Aku mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi kemarin. Aku pingsan di sekolah, yah kurasa itu kurang lebih yang terjadi. Aku mencoba memerhatikan sekelilingku hanya untuk memastikan bahwa ini adalah kamarku.

Aku memandang lama rak buku yang ada di dekat meja belajarku. Perhatianku tertuju kepada sebuah bungkusan coklat di rak paling atas. Kugapai bungkusan itu tanpa pikir panjang. Buku ini di bungkus rapi tapi tidak terlalu rekat, mungkin bisa mudah robek dengan sekali tarik. Luas buku ini kurang lebih seluas buku tulisku, dan dengan tebal yang cukup membuatku pikir-pikir untuk membaca.

Perlahan aku buka bungkusan coklat ini, dengan rapih memastikan kertasnya tidak robek. Perlahan sang buku itu mulai menampakan wajahnya, meskipun malu dia tidak lagu untuk ku keluarkan dari sangkarnya.

Aku tatapi buku itu, dia adalah saudara –mungkin bisa di bilang kembaran- dari satu buku di mejaku. Buku yang memang sudah lamar tidak kubaca. Hanya saja yang satu ini bisa ku mengerti dalam bahasaku. Aku buka buku itu, aku tatapi bacaannya yang idnah dan juga kata kebenaran yang di sampaikan oleh orang yang terpecaya.

Bismillahirahmanirrahim, aku memulai lagi lembaran kehidupanku. Berharap kitab yang diberikan Dino kepadaku ini bisa membantu ku menjalani kehidupan.

---Epilogue---

Aku terpaku menatap laptop di depanku. Tulisan setengah jadi di depanku berteriak meminta untuk di selesaikan. Aku menatap kalender, lima hari lagi hingga deadline tulisan ini. Kuteguk  kopi instan di samping laptopku, sudah kuputuskan untuk menyelesaikannya hari ini agar aku bisa menulis untuk dikirim ke redaksi lainnya. Namun, untuk saat ini aku ingin beristirahat.

Aku membuka firefox di komputerku. Ku buka yahoo untuk mengecek e-mail  yang masuk ke akun ku. Selesai log-in aku menerima berbagiai macam ­e-mail mulai dari penolakan tulisanku, hingga penerimaannya. Aku mengeceknya satu-persatu, hingga akhirnya aku menemukan e-mail dari Avi.

E-mail itu merupakan lanjutan dari saran dia yang lalu. Dia menawarkan perjodohan kepadaku, dia bilang tidak baik bagi wanita dewasa sepertiku untuk terus sendirian. Akhirnya aku menerima saja, lagi pula perjodohan itu dilakukan dengan metode proposal nikah, jadi aku tidak perlu langsung bertemu dengan orangnya.

Aku buka e-mail Avi dan segera ku download lampirannya. Aku buka lampiran itu dengan program word ku. Di sana terpampang sebuah foto yang aku rasa aku kenal. Foto orang yang sudah 7 tahun tidak aku temui. Ada perasaan rindu di dalam hatiku. Wajahnya sama seperti dulu, hanya bertambah sedikit jenggot di dagunya saja. Selamat datang kembali, Dino.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar