“Eh Dini,
menurutmu cowok yang paling keren itu cowok yang kaya’ apa ?”
Sebuah pertanyaan
di lontarkan untukku, sang penanyanya adalah Anisah. Saat ini aku, anisah dan
rafika sedang duduk santai menghantui sebuah pohon di dekat kelasku.
Anisah menatapku tajam, meminta jawabanku segera.
“Cowok yang
kayak apa ya, emm, mungkin cowok yang biasa-biasa aja.” Aku menjawab sekenanya
saja tanpa pikir panjang.
“Dini memang
anak baik, jadi kalau cari cowok pasti anak baik ya. Kalau aku mah cari cowok
yang jago naik motor, biar ngebut kaya’ Rossi gituh.” Anisah menjawab dengan antusias dan senyum manis
dari bibirnya.
“Kalau aku,
mungkin cowok yang Gothic.” Rafika tiba-tiba menyela dengan nada Sadako
andalannya. Aku sempat merinding mendengar dia bicara.
“i..i..ya
ka” aku berusaha menanggapi Rafika dengan santai, namun bibirku tidak
mendengarkanku. Itu adalah satu dari tiga puluh tehnik menakuti miliknya..
“he…he…he….”
Rafika memberikan tawa kecilnya kepada kami lalu kembali asik ke buku yang di
tangannya.
Aku
memerhatikan buku ditangan Rafika, “Gothic di Masa Kini” buku itu sangat sering
dia bawa. Sempat terpikir olehku untuk bertanya kepadanya mengapa dia tertarik
dengan hal unik seperti itu, namun aku selalu mundur setiap kali hal itu
terpikir olehku. Aku perhatikandengan seksama sosok Rafika yang sedang asyik
dengan bukunya, perlahan bayangannya mengingatkanku pada bayangan seorang cowok
yang asyik dengan bukunya.
“Buku” Tanpa
sadar aku mengucapkannya dari mulutku.
“Kenapa Din
?” Anisah melemparkan pandangan herannya kepadaku. Aku menatap Anisah, sesaat
tadi aku yakin mengeluarkan suara berfrekuensi dekat infrasonik. Namun
sepertinya Anisah memiliki telinga dengan frekuensi mendekati suara infrasonik
itu.
“Eh, enggak,
cuman kepikiran aja, cowok yang hobi baca mungkin keren kali ya.” Aku berkata
sekenanya saja.
“Cie,Dini
suka sama kutu buku. Siapa Din ? Anak Literatur ya?” Anisah sengaja berkata
seperti itu karena anak literatur termasuk yang kurang terkenal di sekolah.
“Nisah,
jangan asal ngomong dong.” Aku menarik keras tangan Nisah.
“Dini, ya
Alloh, sakit tau” Anisah meringis meneriaki ku.
--Teng
Tong--
“Biarin,
siapa suruh juga ngomong asal. Udah yuk masuk, tuh pak Aldo udah jalan ke kelas”
Kami bertiga berjalan sedikit berlari ke
kelas.
---TAT---
Peperangan
ketiga kami dimulai lagi dengan
matematika dari pak Aldo. Beliau menerangkannya dengan sangat baik, diselengi
dengan humor jadi membuat kami dapat mencernanya dengan baik. Atau, seperti itu
lah seharusnya, entah kenapa sejak tadi aku sama sekali tidak bisa memusatkan
perhatianku kepadanya. Bayangan seorang cowok menganggu belajarku.
Aku sudah
kelas dua belas sekarang, sudah tidak seharusnya lagi memikirkan yang seperti
itu, belajar, un, kuliah, itu seharusnya menjadi skala prioritas ku sekarang,
aku yakin dan percaya itu. Tapi, walau begitu tetap saja aku tidak bisa
menjiwai hal itu.
“Din, kok kamu bengong terus dari tadi ?” Avi temen
sebangku ku mengagetkanku.
“Eh enggak
vi, eh Pak Aldo mana ? Sudah habis ya jam pelajarannya ? Eh tunggu, anak yang
lain pada kemana ?” Aku terbelalak ketika menyadari kenyataan kami tinggal
berdua dikelas.
“Sekarang
istirahat Sholat, udah yuk dari pada kamu bengong gak jelas, ke mushola aja yuk
!” begitu ajaknya yang memang anak
mushola, (banyak yang ngomong) sih Akhwat. Tapi meskipun akhwat dia tidak
membedakan dengan siapa di bergaul. Bahkan dengan aku yang masih belum
berhijab.
“Ya udah
deh, dari pada pusing begini.” Dengan begitu aku mengiyakan ajakan Avi ke
mushola.
---TAT---
Aku bertemu
lagi dengannya dijalan pulang, wajah tak acuh pada sekitarnya, perhatian penuh
hanya dia tujukan pada buku di hadapannya. Dia membaca di sebuah gardu sepi di
sebrang jalan, aku tidak tahu dia dari sma mana, tapi aku rasa dia sepantaran
denganku.
Sejenak aku
merasa dia melihat ke arahku, mata kami saling bertemu. “sial” dalam hati aku
berteriak. Aku tundukan wajahku dan mulai berjalan pelan menghindarinya.
“Eh kamu
yang kemarin ngeliatin buku ku kan ?” Sebuah suara mengejutkan ku dari
belakang.
“Eh, buku ?
I..i..i..ya emang kenapa ?” ‘Sial.’ Aku berteriak dalam hati, nadaku bicaraku
tidak normal, dan mukaku memanas, aku harap dia tidak menyadarinya.
“Ya udah,
nih ambil bukunya. Aku sudah terlalu sering baca buku ini jadi bosen.” Dia
mengambil sebuah buku yang kemarin kulihat dari dalam tas dan menyerahkannya
kepadaku.
“Eh, gak
usah !” Aku menolak pemberiannya dan mendorong tangannya.
“Simpan aja,
siapa tau bisa bantu kamu dimasa depan. Kalau gitu, aku duluan ya.” Dia tanpa
berkata lagi langsung pergi berlari meninggalkanku
terpatung sendiri. ‘Aku belum tanya namanya.’ Pikirku dalam hati.
---TAT---
Satu bulan
telah berlalu sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Kami sudah jadi cukup
deka, meskipun anehnya setiap kali kami bertemu dia tidak pernah menanyakan
nama ataupun nomor ponselku, selain itu anehnya kami tidak pernah berbicara
lebih dari 2 menit. Aku sendiri heran kenapa dia bisa begitu.
-TEEETT-
Bel panjang
akhir sekolah sudah berbunyi, aku segera meraphikan tasku. Hari ini aku,
rafika, avi, dan beberapa teman lain akan kerja kelompok biologi di rumahku.
---TAT---
“Din,
rumahmu masih jauh ya ?” Rafika bertanya dengan sedikit mengeluh padaku.
“Sabar ka,
sebentar lagi kok.” Aku mencoba menenangkannya
sedikit.
“Oooh, kalau
cowok yang kamu suka itu mana din ?” Rafika menanyakan si pembaca buku itu.
“Hehe, ada
deh ka.” Aku menjawab sekenanya saja.
“Oh itu ya.”
Rafika menunjuk seorang cowok tak acuh dengan buku di tangannya.
“Hai cowok pembaca
buku.” Rafika mencoba memanggil dia dengan keras, meskipunn aku yakin
kebanyakan orang akan berlari mendengar teriakannya, tapi dia melihat dan
berjalan ke arah kami.
“Hai,
temannya dini ya. Halo ukhti Avi.” Dia memanggil ku, aku tidak tahu sejak kapan
dia tahu namaku. Eh tunggu dulu dia juga manggil Avi.
“Halo akhi
Dino, sudah terakhir kali sejak kita bertemu ya. Kalau enggak salah sejak
ukhuwah di sma mu ya.” Avi berbicara santai dengannya.
“Iya,
terimakasih ya bantuannya saat itu.” Mereka berdua ngobrol dengan santai, tanpa
beban layaknya teman lama.
“Kalian
sudah kenal sejak lama ya ?’ Aku berusaha melepaskan keingin tahuan ku.
“Begitulah
din, kami berteman sejak smp. Sekarang pun kadang kami bertemu karena sesame
aktivis. Dia mantan ketua rohis di SMA 2 loh.” Avi menjelaskannya panjang lebar
kepadaku. Aku melihatnya, dia masih sibuuk berbicara dengan cowok yang aku
yakin bernama Dino.
“Sudah yuk
ni, kita ke rumahmu biar cepet selesai tugasnya.” Avi mengajakku pergi lagi,
teman cowok kami juga telihat sudah tidak sabaran.
“Haha, iya
ayok. Sampai nanti lagi ya no.” lalu aku mulai berjalan ke rumah, langkah
pertamaku berat, langkah kedua aku merasa sesuatu menimpa tubuh ku, langkah
ketiga aku tidak bisa menahan berat badanku sendiri.
---TAT---
Begitu sadar
aku sudah terbaring di kamar. Aku melihat tanganku, jamku sudah di lepaskan.
Badanku masih berbau keringat namun tidak terlalu kental,bajuku juga sudah
diganti. ‘Makasih bu’ aku menyuarakan rasa terimakasihku.
Aku mencoba
mengangkat badanku, langit sudah Nampak hitam diluar jendela. Dari luar
akudapat mencium bau nasi goreng yang sedanng di masak.’Mungkin ayah sudah
pulang’ pikirku lagi.
Aku
menggapai telepon genggamku di meja. Banyak sekali sms dari temanku, mereka
semua menghawatirkan keadaanku. Yah, mereka gak tau keadaanku sih, aku jarang
menunjukan sisiku yang lemah di depan teman yang lain, cukup Dini yang kuat dan
riang saja yang mereka ketahui.
Aku terus
mebaca sms dari teman-temanku, lalu aku melihat sms dari Avi.
“Din, maaf
ya aku tadi ngasih nomor kamu ke Akhi Dino maaf ya gak ngomong dulu. Dia maksa
soalnya.” Jadi Dino namanya, kenapa diam saja padahal selama ini dia tau
namaku.
Drrrrttt----
Ponsel ku
bergetar tanda sebuah sms masuk.
“Hai din,
ini ane Dino, katanya kamu sering down ya kalau lagi gak tenang ? Untung deh
aku ada buku yang cocok untuk itu. Barusan aku kasih ke ibumu. Di baca ya kalau
sempet !” Danbegitu sms nya berakhir.
Aku membaca
ulang kata-kata di akhir sms.’barusan aku kasih ibu’. Berarti dia barusan
kesini dong, aku segerar belari menuju jendela kamarku yang menghadap ke
jalanan, kamarku berada di lantai dua jadi aku bisa melihat dengan jelas
halamanku. Di kejauhan aku bisa melihat bayangan putih menjauh. Buat apa dia
repot-repot datang kesini cuman buat ngasih buku.
TOK TOK,
teerdengat suara ketokan pintu dari luar kamar. Ibu membawa buku yang di bawa
Dino kayanya.
“Din, kamu
sudah bangun belum. ?” Ibuku memastikan kondisiku, aku rasa kalau aku diam saja
ibu pasti langsung masuk kedalam kamar. Aku memutuskan untuk bangun dan
membukakan pintu. Aku tidak mau terlihat lemah.
“Udah kok
bu.” Aku menjawab seraya membuka pintu.
“Buku dari
dino ya, makasih ya bu. Maaf tapi aku mau istirahat, boleh kan bu.” Aku
menjawab mencoba untuk tidak menyakiti hati ibuku.
“Ya sudah
kamu juga keliatannya sudah agak tenang, ini bukunya. Di bungkus rapih loh sama
dia.” Ibu memberikan bingkisan coklat dan godaan kepadaku. Aku mengambilnya
dengan senyumanku yang terbaik.
“Tapi ibu
sangat kagum dengan perhatian anak itu. Dia kelihatan yang paling khawatir saat
kamu pingsan tadi. Juga, malam-malam begini dating mengantarkan buku, ibu harap
dia tidak apa-apa saat pulang.” Ibu berkata menyatakan kekhawatirannya.
“Sudahlah
bu, dia kan bukan anak-anak.” Aku menjawab mencoba sedikit menenangkan ibu.
“Ya sudah,
aku bacanya bukunya dulu ya bu.” Aku mengambil bingkisan coklat dari ibu dan
menutup malam. Di luar aku mendengar sedikit keluhannya dan juga ‘selamat
malam’ dan ‘tidur yang nyenyak’-nya.
‘Buku ini
adalah obat terbaik buat siapa saja yang sedang susah dan tidak tenang hatinya.
Di baca sampai tuntas ya. !’ Begitulah tulisan yang ada di bungkusan coklat
itu. Iya, hati yang tidak tenang, begitulah aku. Aku tidak mengerti semenjak
kapan aku menjadi seperti ini, tapi ini lah kenyataannya.
Badanku
tidak begitu lemah, aku masih sanggup berdiri upacara di pagi har. Namun,
stress yang terlalu berat bisa membuat ku pingsan. Karena itu aku selalu ceria
di manapun, agar aku tidak mudah collapse di depan temanku.
Aku
menggapai telepon genggam di mejaku, jemariku mulai berlarian mengetikkan tanda
terimakasih, permintaan maaf, kekhawatiran, dan beberapa macam hal yang tidak
penting sehingga tanpa sadar aku mengetik sms yang sangat panjang, cukup kalau
di jadikan cerpen aku rasa. Segera aku pencet tombol hijau di ponsel ku.
Aku
mempethatikan layarnya, setelah yakin kalau sms nya sudah terkirim aku
meletakkan kembali ponsel-ku di meja. Perlahan aku amati langit malam, bintang
terlihat cerah di sana, aku memberikan senyum terbaikku kepada mereka. Aku
yakin mereka pun tersenyum padaku.
Kembali ku
amati ponsel ku di atas meja, ku ambil dan ku tatapi layarnya. Masih belum ada
sms masuk darinya, mungkin dia sedang sibuk. Aku rebahkan badanku di kasur
berharap bisa mengusir sedikit saja kegundahanku.
Namanya
Dino, nama lengkapnya aku belum tah, sekolah di SMA 2, rangkingnya terbaik di
sekolahnya, mungkin terbaik di provinsi, aku rasa dia sepantaran dengan aku,
masih aktif sebagai aktivis dan mantan ketua rohis.
‘Mantan
ketua rohis’ sebuah jabatan yang sangat berat untuk di sandang. Sejauh yang aku
lihat mantan ketua rohis menjadi idola banyak cewek di SMA. Seorang ketua rohis
pasti memiliki agama yang bebeda di level yang berbeda dengan kebanyakan orang.
Meskipun begitu mereka tidak mencari pacar, karena memang seperti itulah islam
yang selalu di junjung oleh mereka.
Aku
memiringkan badanku ke kanan dan tanpa terasa pipiku hangat oleh air mataku. Di
saat itulah aku mendegar nada yang selalu aku dengar, tapi aku tidak tahu kalau
nada ini bisa se indah ini.
Segeraku
bangkitkan badanku dan menggapai ponsel di meja.
‘:D Bukunya
sudah di baca belum ?’. Hanya dengan itu dia membalas sms ku, hanya dengan itu
dia menjawab terima kasihku, hanya dengan itu dia mencoba menenangkan rasa
khawatirku, hanya dengan itu dia menjawab rasa bersalah ku, hanya dengan itu
dia membalas sms ku. Aku terpaku menatap layar ponsel. Ada sedikit rasa kecewa
dari dalam diriku, tapi rasa penasaran ku bertambah haus.
Aku segera
membalas sms dia dengan perasaan gugup, di bales gak ya sms ku. Aku merebahkan
badan berharap bisa menangkan perasaan menyesakkan di dada. Meskipun aku yakin
hal itu tidak bisa, aku memerhatikan ponsel dengan perasaan gugup, berharap sms
ku cepat di balas oleh dia.
10 menit,
masih belum ada balasan. Aku melihat jam, jam tepat menunjukan pukul Sembilan
malam. ‘mungkin dia lagi belajar’, begitu pikirku dalam hati. Aku mengubur ponsel
ku di dalam tumpukan bantal. Kepalaku ku hantamkan ke hadapan kasur,aku
menenggelamkan wajah dan perasaan kecewaku. Perlahan aku meninggalkan dunia
nyata dan pergi ke dunia mimpi.
Kriiingggg,
teriakan jam weker membangunkanku, rasa dingin khas pagi hari menyelimuti
badanku. Aku melihat jam di dinding, jam empat lewat tiga puluh menit. Tanpa
sadar aku mengambil telepon genggam di bawah bantal. ‘Masih belum ada balasan’
pikirku sambil melihat layar ponsel.
Aku bangun dari
kasur berjalan menuju ke kamar mandi. Berharap bisa mengusir kekecewaan yang
ada di hatiku.
---TAT---
Sudah tiga
minggu lewat semenjak kejadian pingsanku, aku dan Dino sudah agak menjauh. Dia
sama sekali tidak pernahbisa mendapat percakapan layaknya kebanyakan cewek dan
cowok lainnya. Aku mengerti hal itu, bagaimanapun dia adalah seorang akhi yang
harus bisa menjaga dirinya dari cewek kebanyakan.
Meskipun dia
jarang membalas sms ku, dia tetap saja sering menanyakan buku yang dia berikan
lewat sms. Kata ‘bukunya sudah di baca belum’ atau ‘gimana bukunya bagus kan’,
pasti seperti itu yang dia tulis. Berkali-kali mendapat sms yang sama aku mulai
berhenti berharap ditanggapi olehnya, awalnya aku menyegel ponsel ku di dalam
tasku. Namun, karena takut ada sms penting dari temanku aku mengganti nomor
ponsel ku dengan yang baru. Kartu sim nomor yang lama aku simpan dalam tas.
Nomor ponsel baru ku kusebarkan ke semua teman-temanku. Kecuali Avi, karena ku
yakin jika aku beri tahu dia pasti bakalan dikasih ke dino lagi.
---TAT---
“Din,
kemarin kamu kenapa gak ikut nganterin Akhi Dino ke Bandara ?” Teguran Avi
membangunkan lamunanku. Aku tidak mengerti satu kata pun yang di ucapkan Avi..
“Ke Bandara,
emang dia mau kemana ?” Aku bertanya dengan getaran dalam nadaku.
“Ke Inggris,
kamu gak tau tah ? Aku kan sudah sms kamu dari kemaren-kemaren.” Avi bertanya
meragukan ketidak tahuanku. “Yah, kamu gak bales sih, mungkin lagi low bat ya
?” ‘Kemarin-kemarin, mungkin setelah aku mengganti nomor’ pikirku dalam hati
menjelaskan perkataan Avi.
“Emang dia
di Inggris mau ngapain, kuliah ya ?” Aku bertanya dengan nada bosan. Orang
seperti dia memang pantas kuliah di Inggris.
“Wih, enak
ya kalau dia memang kuliah. Tapi sayangnya dia sekarang lagi menjalankan terapi
di sana.” Avi berkata dengan mata berkaca, aku menatapnya dengan takut,
punggungku terasa berat seperti ada beban yang tertimpa disana. Pikiranku mulai
buram setelah mendengar satu kata “TERAPI”.
“Sejak kecil
dia mengidap penyakit keras, aku kurang tau nama penyakit atau gejalanya, dia
tidak pernah membiarkan orang lain
mengetahui hal itu. Waktunya tinggal satu bulan lagi.” Avi berkata dengan penuh
isak.
“Tadinya dia
sudah mau menyerah, dia bilang bahwa hal yang dia inginkan sudah terpenuhi.
Tapi tidak setelah bertemu denganmu. ‘Terimakasih, kau memberiku harapan’ dia
ingin agar aku menyampaikan itu padamu.” Air mata bercucuran dari kedua bola
mata Avi. Aku pun ikut terbawa suasana yang dia bawa.
Penyakit
keras, waktunya tinggal satu bulan, sudah mau menyerah, terapi, kau memberiku
harapan. ‘Jangan bodoh, lihat siapa yang berbicara, kau yang memberiku
harapan, kau yang memberiku rasa, kau yang aku rasakan, dan kau berkata bahwa
aku yang member mu harapan? Jangan bicara sok keren itu layaknya karakter utama
dalam sebuah novel. Kalau ada yang ingin kau sampaikan, sampaikan secara
langsung’ aku berteriak dan mengumpat dalam hati.
Aku mengangkat
badanku sekuat tenaga, kakiku bergetar tak kuat menahan berat badanku. Bukan
berarti badanku bertambah berat secara tiba-tiba sehingga kakiku tidak bisa
menahannya. Namun kakiku yang kehilangan kekuatannya untuk menopang tubuhku.
“Aku ke
toilet dulu.” Dengan kasar aku berkata kepada Avi, aku sanding tasku di bahu.
Dengan kasar aku langkahkan kaki keluar kelas. Samar-samar di kejauhan
terdengar dua suara tidak asing di telingaku. Yang pertama suara bel tiga kali
tanda masuk kelas, dan yang kedua adalah suara isak tangis seseorang dari
belakangku. Suara bel sekolah harusnya lebih keras dari suara isak tangis itu,
namun suara isakan tangis itu lebih terdengar bagiku, seolah mengajakku
bergabung dengannya dalam suatu konser ballad.
---TAT---
Tanganku
bergetar membuka pintu kamar mandi, perlahan aku masuk ke dalam. Ruangan di
dalamnya agak gelap, memberikan perasaan tidak enak padaku. Aku merogoh ponsel
ku di dalam kantong, cahaya lampu layarnya sajalah yang sekarang menjadi lampu
bagiku.
Aku membuka
resleting ransel ku, ku obrak-abrik semua barangku disana, aku mencari kartu kecil jiwa ponselku, kartu
yang tadinya aku segel kini aku cari sepenuh hati. Setelah mengeluarkan semua
sarapan tasku, aku menemukan sebuah kepingingan kecil di pojok tas. Tergesa aku
meraih ponsel di saku celanaku. Segera ku lepas baterai dan ku pasang kartu
kecil di tanganku.
Perlahan
cahaya mulai keluar dari ponselku, aku terdiam memaku menghadap ponselku.
Din, apa
kabarmu, jarang bales sms ku lagi sakit ya? Semoga cepat sembuh ya!
Din, lagi
apa, bukunya sudah dibaca belum. Emm, jangan2x kamu jengkel ya aku ngomong soal
buku terus? Maaf ya, aku terlalu egois.
Din, Akhi
Dino lusa mau ke Inggris, kamu ikut nganterin ya!
Din,
insyaAlloh lusa aku mau ke Inggris buat berobat, doa in aku ya.
Din, ada
yang mau aku omongin sama kamu di bandara. Tolong usahakan dating ya.
Din,
pagi, pesawatnya terbang jam 9 pagi, hari ini kan hari libur, jadi sempetin
dating ya. Ada yang mau aku omongin juga, jadi dating ya, aku tunggu.
Din, udah
dimana ?
Din, udah
dimana ?
Din, udah
dimana ?
Din, udah
dimana ?
Din, udah
dimana ?
Din, udah
dimana ?
Din, udah
dimana ?
Din, udah
dimana ?
Din, udah
dimana ?
Din, udah
dimana ?
Din,
sampai jumpa suatu saat nanti, aku yakin kita bisa bertemu, bahkan jika
keyakinan itu palsu aku akan mengusahakannya tidak akanmati. Makasih sudah
ngasih aku alasan untuk hidup. Sampai jumpa lain waktu.
Waktu adalah
suatu perjalan, dia akan terus maju dan tidak bisa mundur. Jika waktu bisa
secara egois dibalik, mungkin aka nada banyak orang yang bahagia saat ini,
mungkin ada banyak orang yang sengsara saat ini, mungkin juga ada orang yang
sudah meninggalkanku saat ini. Aku yang mengerti hal itu hanya bisa menatap
layar ponsel ku dan terpaku. Membiarkan kesadaranku semakin menjauh.
---TAT---
Aku berdiri
di tengah sebuah ruangan luas, di timurku terpampang sebuah pintu besar dari
kaca dilihat dari bentuknya itu adalah pintu yang bisa bergeser sendiri jika
ada orang di depannya. Di barat terpampang lorong besar panjang. Di selatan
berjejer kursi-kursi yang bergandengan satu sama lain, mereka berkumpul
berlima. Di utara terpajang sebuah papan besar yang memamerkan berbagai macam
nama Negara dan ibu kota. Aku terdiam
dan menundukan kepala, sesaat aku sadar bahwa tidak ada orang selain aku
disini.
“Din, Dini?”
Aku menengokkan kepala, memandang seseorang yang memanggil namaku. Seseorang
berdiri terdiam memandangi ku disana, ada sejenis perasaan kangen saat aku
melihat wajahnya, ada gelora yang mencekam di dadaku. Dino.
“DINO.” Aku
berlari menerjang sosok pria sebaya di hadapanku. Dia memajukan tangannya,
menahannya di depan.
“Stop, kamu
mau ngapain din?” Dia menghentikan terjanganku.
“Aku kangen
sama kamu, maaf kemaren aku gak ikut nganterin kamu. Kamu gak marah kan sama
aku?” Aku menyerbu dia dengan pernyataanku.
Dia hanya
tersenyum mendengar perkataanku. “Makasih ya Din, kemarin kamu gak dateng.” Dia
dengan santai mengeluarkan kata itu dari mulutnya. Aku hanya bisa terdiam
mematung, menatapnya, menagih sebuah penjelasan darinya.
Dia
tersenyum, menghiraukan perasaanku, bertindak seolah dia tau yang terbaik.
“Bodoh.”
Cuman itu yang bisa kukakatakan, hanya itu satu-satunya kata yang bisa
menjelaskan dengan baik apa yang akan kukatakan.
“Aku menyesal, sangat menyesal, tidak bisa
berada di dekatmu, tidak bisa mendukungmu. AKU MENYESAL TIDAK DENGANMU SAAT KAU
AKAN PERGI!” Perlahan air mata mulai membasahi pipiku.
“Aku ingin
lebih dekat denganmu, aku ingin bisa mendukungmu, aku ingin bisa mengobati
lukamu. Tapi aku tidak berdaya, aku tidak punya apa-apa, aku tidak kuat, aku
tidak pintar, tidak pantas berada di dekatmu.” Aku meneriakinya dengan isakan.
Aku
menatapnya tajam, jauh kedalam matanya, perlahan aku merasakan jantung ku
berlari, detaknya begitu cepat, begitu keras di telingaku. Aku mendengar
jantungku berdetak, berlomba, dengan suara lainnya. Perlahan aku menyadari,
jantung miliknya juga berdetak secepat jantungku. Bergegas berlomba dengan detakku,
terasa bagaikan setiap detik begitu penting bagi mereka hingga tidak ada
satupun yang mau mengalah. Hingga perlahan detak kami menenangkan dirinya,
perlahan hingga semua terasa wajar, perlahan hingga mereka berjalan bersama.
Aku menatap wajahnya, dia tersenyum dalam diam, menemaniku mendengarkan orkesta
hati kami.
“Aku juga,
merasaa begitu.” Perlahan dia mulai berbicara.
“Sejak
pertama kali bertemu denganmu, eh bukan, bukan yang pertama deng, yang
ke-satu,dua,tiga yang ke-lima kalinya kau bertemu denganmu aku mulai
menyukaimu. Alasannya apa, aku juga gak ngerti, ketika sadar aku sudah
menyukaimu begitu saja.
Aku mulai
ragu, haruskah ku utarakan perasaan ini, ataukah aku pendam dalam hati. Kau
tau, keluargaku adalah keluarga yang sangat keras. Sejak kecil aku selalu
diajari ayah kalau pacaran itu salah, lebih tepatnya sih sejak smp, yah
meskipun dia sama sekali tidak melarangku untuk suka sama cewek.
Dia selalu
berkata padaku, “Pacaran adalah bentuk tidak bertanggung jawab terhadap cinta,
suatu saat kau pasti putus. Karena itu hindari pacaran sebisa mu, jika kau
memang mencintai seseorang, jadilah kuat, dan lindungi dia.” Kata-kata itu
sampai saat ini masih tertanam dalam di hatiku.” Dino berkata dengan tatapan
nostalgia di wajahnya.
“Semenjak
kamu sudah mulai jarang berbicara denganku aku mulai ragu, ragu apakah aku
harus diam saja atau bergerak mengungangkapkan rasa ini padamu. Dan saat itu
aku memutuskan, aku akan mengutarakan semuanya saat aku akan pergi.
Di hari
keberengkatan, aku menunggumu sambil berharap kau akan datang, melalu pintu
itu, menghampiriku.” Dino menunjuk sebuah pintu geser otomatis di sebelah
kiriku.
“Aku
menunggu dan menunggu, berharap kau akan datang, meskipun entah di mana di
dalam hatiku aku sadar, kau tak akan datang.” Aku menatap wajah sedihnya dalam.
“Maaf, aku
tidak bermaksud menyakitimu.” Aku tertunduk menyesali apa yang telah ku
lakukan.
“Jangan
minta maaf, kan sudah aku bilang di awal. Terima kasih karena kemaren tidak
datang.” Aku membangkitkan kepalaku, dia menatapku dengan penuh keyakinan.
“Ketika kamu
tidak datang aku sadar, sekarang masih bukan waktunya, aku masih belum kuat.
Aku masih belum bisa melindungimu. Karena itu aku pergi, agar aku bisa berpisah
dari penyakit ini, bertambah kuat, dan melindungimu.” Perlahan kutatapi
figurnya, sosoknya terlihat begitu kuat di mataku, namun perlahan aku sadari.
Dia juga begitu ringkih, selama ini bertarung dengan penyakitnya.
“Kalau
begitu aku akan menunggu.” Aku mencoba menatap wajahnya dengan keyakinan.
“Aku juga
akan bertambah kuat dan menunggumu, menunggu sampai kita bisa bertemu lagi.”
Aku menatap wajahnya, menatapnya dalam dan mencoba untuk menyemangatinya. Aku
sudah memutuskan, aku akan bertambah kuat, sekuat mungkin sampai aku sejajar
dengannya.
“Iya.” Dia
memberikan jawaban terakhir dengan sepenuh hati.
Aku
memandangi sekitar, mencoba menghindari tatapannya. Aku tidak ingin dia tahu
kalau mukaku sudah bertambah merah. Aku mengamati sekitarku, perlahan aku
menyadari, pintu, lorong, jendela, papan, dan berbagai macam benda di sekitarku
mulai menghilan dan telah berubah menjadi bukan apa-apa. Aku hanya memandangi
kejadian ini dengan tenang, seolah sesuatu di dalam ku mengatakan bahwa ini
adalah hal yang wajar.
“Ngomong-ngomong
sekarang kita lagi dimana ?” Aku menanyakan hal yang tidak perlu aku tanyakan,
karena bagaimanapun juga aku tahu jawabannya. Kalau ini di dalam mimpi.
“Aku rasa
ini di mimpi.” Dia memberikan jawaban sesuai dugaanku.
“Kalau
memang ini mimpi, berarti kita gak bakal ingat yang kita katakan hari ini.” Aku
mencoba memastikan satu hal lagi dengannya.
“Tentu aja
dong, karena itu aku gak masalah ngomongin perasaanku denganmu disini.”
“Daasar, itu
artinya kamu gak bakal perduli kalau aku gak suka lagi sama kamu?”
“Jangan
khawatir, meskipun kita gak bakal ingat dengan apa yang ada di dunia mimpi.
Tapi aku akan selalu ingat denganmu dan perasaanmu.” Dino mengucapkan selamat
tinggalnya denganku. Perlahan-lahan figur badannya mulai menghilang.
“Kalau
memang begitu, pertemuan kita selanjutnya setelah kita bertambah kuat.” Aku
mengucapkan kata perpisahan ku kepadanya. Perlahan-lahan kakiku menghilang,
meskipun anehnya aku masih merasa mengingjak sesuatu.
“Buku ku
jangan lupa di baca.” Kepala nya mengucapkan permintaan terakhirnya kepadaku.
---TAT---
Aku menatapi
plafon putih yang ada dihadapanku, lima menit sudah aku berhadapan dengannya
saat ini. Mencoba mengumpulkan kekuatan dari dalam diriku, perlahan
kubangkitkan tubuhku. Aku mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi
kemarin. Aku pingsan di sekolah, yah kurasa itu kurang lebih yang terjadi. Aku
mencoba memerhatikan sekelilingku hanya untuk memastikan bahwa ini adalah
kamarku.
Aku
memandang lama rak buku yang ada di dekat meja belajarku. Perhatianku tertuju
kepada sebuah bungkusan coklat di rak paling atas. Kugapai bungkusan itu tanpa
pikir panjang. Buku ini di bungkus rapi tapi tidak terlalu rekat, mungkin bisa
mudah robek dengan sekali tarik. Luas buku ini kurang lebih seluas buku
tulisku, dan dengan tebal yang cukup membuatku pikir-pikir untuk membaca.
Perlahan aku
buka bungkusan coklat ini, dengan rapih memastikan kertasnya tidak robek. Perlahan
sang buku itu mulai menampakan wajahnya, meskipun malu dia tidak lagu untuk ku
keluarkan dari sangkarnya.
Aku tatapi
buku itu, dia adalah saudara –mungkin bisa di bilang kembaran- dari satu buku
di mejaku. Buku yang memang sudah lamar tidak kubaca. Hanya saja yang satu ini
bisa ku mengerti dalam bahasaku. Aku buka buku itu, aku tatapi bacaannya yang
idnah dan juga kata kebenaran yang di sampaikan oleh orang yang terpecaya.
Bismillahirahmanirrahim,
aku memulai lagi lembaran kehidupanku. Berharap kitab yang diberikan Dino
kepadaku ini bisa membantu ku menjalani kehidupan.
---Epilogue---
Aku terpaku
menatap laptop di depanku. Tulisan setengah jadi di depanku berteriak meminta
untuk di selesaikan. Aku menatap kalender, lima hari lagi hingga deadline
tulisan ini. Kuteguk kopi instan di
samping laptopku, sudah kuputuskan untuk menyelesaikannya hari ini agar aku
bisa menulis untuk dikirim ke redaksi lainnya. Namun, untuk saat ini aku ingin
beristirahat.
Aku membuka firefox
di komputerku. Ku buka yahoo untuk mengecek e-mail yang masuk ke akun ku. Selesai log-in
aku menerima berbagiai macam e-mail mulai dari penolakan tulisanku,
hingga penerimaannya. Aku mengeceknya satu-persatu, hingga akhirnya aku
menemukan e-mail dari Avi.
E-mail itu
merupakan lanjutan dari saran dia yang lalu. Dia menawarkan perjodohan
kepadaku, dia bilang tidak baik bagi wanita dewasa sepertiku untuk terus
sendirian. Akhirnya aku menerima saja, lagi pula perjodohan itu dilakukan
dengan metode proposal nikah, jadi aku tidak perlu langsung bertemu
dengan orangnya.
Aku buka e-mail
Avi dan segera ku download lampirannya. Aku buka lampiran itu dengan
program word ku. Di sana terpampang sebuah foto yang aku rasa aku kenal.
Foto orang yang sudah 7 tahun tidak aku temui. Ada perasaan rindu di dalam
hatiku. Wajahnya sama seperti dulu, hanya bertambah sedikit jenggot di dagunya
saja. Selamat datang kembali, Dino.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar